DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perak mulai keluar dari bayang-bayang emas. Logam putih yang dulu lebih sering dipandang sebagai bahan perhiasan dan industri kini semakin ramai dibicarakan sebagai alternatif investasi pada 2026.
Hasil tracking Dialeksis terhadap sejumlah data pasar menunjukkan, perhatian terhadap perak meningkat karena tiga faktor utama: harga global yang melesat, pasokan dunia yang masih ketat, serta kebutuhan industri modern yang terus memakai perak, terutama untuk sektor energi, elektronik, kendaraan listrik, pusat data, dan teknologi kecerdasan buatan.
Pada Kamis (18/6/2026), Kitco mencatat harga spot perak di pasar internasional berada pada kisaran bid US$66,29 per troy ounce dan ask US$66,54. Sementara platform Pluang menampilkan harga silver futures sekitar US$66,28 dengan perubahan harian minus 6,35 persen. Angka ini memperlihatkan dua sisi pasar perak: level harga sudah tinggi, tetapi pergerakannya tetap tajam dari hari ke hari.
Narasi perak sebagai aset yang sedang naik daun juga mulai ramai dalam percakapan publik. Salah satu materi video pendek yang masuk tracking Dialeksis mengangkat tema “Harga Perak Terus Naik, Begini Potensi Investasi Perak di 2026”. Judul tersebut menggambarkan meningkatnya minat investor ritel terhadap instrumen logam mulia selain emas.
Namun, daya tarik perak tidak berdiri hanya di atas spekulasi harga. The Silver Institute memperkirakan pasar perak global akan mengalami defisit untuk tahun keenam berturut-turut pada 2026. Total pasokan global diproyeksikan naik 1,5 persen menjadi 1,05 miliar ounce, tetapi tetap belum cukup menutup kebutuhan pasar sehingga defisit diperkirakan mencapai 67 juta ounce.
Dari sisi permintaan, investasi fisik perak diperkirakan naik 20 persen menjadi 227 juta ounce, tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan ini terutama didorong pemulihan minat investor ritel di pasar Barat serta sentimen positif dari India. Pada saat yang sama, ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik ikut membuat logam mulia kembali dilirik sebagai aset lindung nilai.
J.P. Morgan Global Research bahkan memasang proyeksi cukup tinggi. Lembaga itu memperkirakan harga rata-rata perak pada 2026 berada di level US$81 per ounce, naik dari perkiraan sebelumnya US$56,30 per ounce. Gregory Shearer, Head of Base and Precious Metals Strategy J.P. Morgan, menilai dukungan terhadap harga perak datang dari defisit fisik beberapa tahun terakhir, ketidakpastian tarif Amerika Serikat, serta kuatnya permintaan investasi ritel dari China dan India.
Meski demikian, J.P. Morgan juga memberi catatan penting. Harga perak tetap berisiko tertahan apabila sektor industri, terutama manufaktur panel surya, mulai mengurangi pemakaian perak atau menggantinya dengan material lain. Berbeda dengan emas yang banyak diserap bank sentral, perak juga tidak memiliki dukungan pembelian bank sentral dalam skala yang sama.
Di sinilah karakter perak menjadi menarik sekaligus rumit. Dalam perspektif ekonomi, perak bukan hanya aset lindung nilai seperti emas, tetapi juga komoditas industri. Artinya, harga perak bisa terdorong oleh sentimen inflasi, pelemahan dolar AS, dan ketidakpastian global, tetapi juga sangat sensitif terhadap siklus industri, teknologi, dan permintaan manufaktur.
The Silver Institute mencatat penggunaan perak untuk fabrikasi industri diperkirakan turun 2 persen pada 2026 menjadi sekitar 650 juta ounce. Penurunan itu terutama dipicu sektor photovoltaic atau panel surya yang mulai melakukan efisiensi penggunaan perak dan mencari substitusi bahan. Namun, kebutuhan dari pusat data, teknologi berbasis AI, dan sektor otomotif diperkirakan masih menopang konsumsi perak di berbagai lini industri.
Di pasar Indonesia, Pegadaian menjelaskan investasi perak dapat dilakukan dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Bentuk fisik antara lain perhiasan, koin, dan batangan, sedangkan bentuk nonfisik dapat berupa reksa dana berbasis komoditas atau sertifikat kepemilikan. Perak batangan dinilai lebih ideal untuk investasi karena umumnya memiliki kadar kemurnian lebih tinggi dibanding perhiasan.
Keunggulan utama perak adalah harga yang lebih terjangkau dibanding emas. Dengan modal lebih kecil, investor pemula bisa mulai mengakumulasi logam mulia. Perak juga memiliki potensi kenaikan lebih cepat saat permintaan meningkat, terutama karena ukuran pasarnya lebih kecil dan pasokannya terbatas.
Tetapi, risikonya tidak boleh diabaikan. Pegadaian mencatat sejumlah kelemahan investasi perak, mulai dari risiko oksidasi dan perubahan warna, kebutuhan penyimpanan fisik yang aman, likuiditas yang relatif lebih rendah dibanding emas, fluktuasi harga yang agresif, risiko pemalsuan, hingga spread jual-beli yang cukup tinggi. Karena itu, perak kurang cocok untuk strategi jangka pendek dan lebih sesuai bagi investor yang siap menahan aset dalam jangka menengah hingga panjang.
Bagi investor ritel, termasuk di Aceh, lonjakan perhatian terhadap perak sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai ajakan membeli secara terburu-buru. Perak memang menawarkan cerita besar: pasokan global ketat, permintaan industri bertumbuh, dan minat investasi meningkat. Namun, sifatnya yang volatil membuat instrumen ini memerlukan disiplin, literasi, dan kesiapan menghadapi koreksi harga.
Dengan kata lain, perak bisa menjadi “emas baru” dalam portofolio investasi modern, tetapi bukan tanpa jebakan. Ia menarik karena murah dibanding emas dan punya fungsi industri yang kuat. Namun, justru karena fungsi ganda itu, harga perak dapat bergerak lebih liar.
Investor yang ingin masuk ke perak perlu memastikan tiga hal: membeli dari penjual tepercaya, memahami selisih harga beli dan jual, serta menempatkan perak sebagai bagian dari diversifikasi, bukan satu-satunya sandaran kekayaan. [ra]
