Sabtu, 13 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Sekda Kawal Investor Rusia Masuk Aceh, Sumur Tua Jadi Pintu Baru Ekonomi Rakyat

Sekda Kawal Investor Rusia Masuk Aceh, Sumur Tua Jadi Pintu Baru Ekonomi Rakyat

Sabtu, 13 Juni 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir. [Foto: dok. Humas Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, terus bergerak membuka ruang investasi strategis bagi Aceh. Salah satu langkah yang kini menjadi perhatian adalah penjajakan kerja sama dengan investor asal Rusia untuk mengembangkan potensi sumur minyak tua di sejumlah wilayah penghasil migas di Aceh.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf atau Mualem dalam memperkuat ekonomi daerah melalui investasi yang tidak hanya berorientasi pada modal besar, tetapi juga berdampak langsung terhadap masyarakat bawah.

Sekda Aceh M. Nasir mengatakan, minat investor Rusia terhadap Aceh bukan sekadar pembicaraan awal. Menurutnya, pihak investor menunjukkan keseriusan untuk masuk dan menanamkan modal di sektor energi, terutama pada pengembangan sumur-sumur tua yang tersebar di kawasan Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bireuen, serta kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya.

“Investor Rusia sangat serius dan memiliki minat besar untuk menanamkan modal di Aceh. Salah satu sektor yang mereka lihat sangat potensial adalah pengelolaan sumur tua yang selama ini berada di daerah-daerah asal minyak,” kata M. Nasir kepada Dialeksis, Sabtu (13/6/2026).

Menurut M. Nasir, Pemerintah Aceh tidak ingin investasi yang masuk hanya berhenti pada aktivitas eksploitasi sumber daya alam. Lebih dari itu, setiap kerja sama investasi harus memberi nilai tambah bagi daerah, membuka lapangan kerja, memperkuat pendapatan daerah, serta melibatkan masyarakat setempat dalam proses pemberdayaan.

“Kita ingin investasi ini membawa manfaat nyata. Masyarakat di sekitar wilayah produksi harus ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton di tanah sendiri,” ujarnya.

M. Nasir menegaskan, Pemerintah Aceh akan memastikan setiap proses investasi berjalan sesuai regulasi, menghormati kewenangan pusat dan daerah, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk pemerintah kabupaten/kota, BPMA, BUMD, koperasi, dan masyarakat lokal.

“Ini sedang dan terus saya kawal. Kita ingin prosesnya berjalan sampai pada tahap perjanjian kerja sama investasi yang jelas, terukur, dan menguntungkan Aceh,” kata M. Nasir.

Ia menambahkan, pengelolaan sumur tua harus diarahkan menjadi model ekonomi baru yang tertib, legal, dan produktif. Selama ini, potensi sumur tua di Aceh cukup besar, namun belum seluruhnya terkelola secara optimal. Dengan masuknya investor yang memiliki kemampuan teknologi dan permodalan, pemerintah berharap potensi tersebut dapat ditata lebih baik.

“Yang kita dorong bukan hanya pengeboran. Kita ingin ada transfer teknologi, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan di kabupaten-kabupaten asal minyak,” ucapnya.

M. Nasir juga memastikan Pemerintah Aceh akan menjaga iklim investasi tetap aman dan kondusif. Menurutnya, kepastian hukum, keamanan, dan penerimaan sosial masyarakat menjadi faktor penting agar investor benar-benar nyaman masuk ke Aceh.

“Pesan kita jelas, Aceh terbuka untuk investasi. Tetapi investasi yang kita harapkan adalah investasi yang menghormati aturan, menghormati masyarakat, dan ikut membangun Aceh,” katanya.

Pertemuan Sekda Aceh M. Nasir dengan perwakilan Business Council Federasi Rusia, Mikhail Kuritsyn, sebelumnya berlangsung di Jakarta pada 6 Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah rencana kerja sama strategis, termasuk peluang investasi di sektor energi, infrastruktur, dan sektor ekonomi lain yang dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan di Aceh.

Bagi M. Nasir, masuknya minat investor Rusia menjadi sinyal bahwa Aceh mulai kembali dilirik sebagai daerah tujuan investasi. Karena itu, ia menilai seluruh pihak perlu menjaga momentum tersebut dengan sikap terbuka, profesional, dan berpihak pada kepentingan masyarakat Aceh.

“Ini peluang besar. Tugas kita adalah memastikan peluang ini tidak lepas, tetapi juga tidak boleh merugikan Aceh. Semua harus dikawal dengan baik agar investasi yang masuk benar-benar menjadi jalan bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat,” ujar M. Nasir. [ra]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI