Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Tarik Investor, AMANAH Hadirkan Fasilitas Lengkap Siap Pakai untuk Bisnis di Aceh

Tarik Investor, AMANAH Hadirkan Fasilitas Lengkap Siap Pakai untuk Bisnis di Aceh

Jum`at, 24 April 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Wakil Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH), Dr. Iskandarsyah Majid bersama ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad saat menyampaikan konferensi pers tentang relaunching AMANAH di Ladong, Aceh Besar. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wakil Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH), Dr. Iskandarsyah Majid, mengajak masyarakat luas, khususnya kalangan investor, untuk melihat langsung potensi besar pengembangan ekonomi Aceh melalui fasilitas yang telah dibangun di Gedung AMANAH.

Ajakan tersebut disampaikannya dalam momentum relaunching AMANAH, Kamis (23/4/2026), yang dinilai sebagai titik awal kebangkitan baru ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas anak muda Aceh.

“Gedung AMANAH ini bukan sekadar bangunan, tetapi sebuah ekosistem ekonomi yang sudah siap diisi. Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor untuk masuk, berkolaborasi, dan tumbuh bersama Aceh,” ujar Iskandarsyah.

Ia menegaskan, AMANAH kini telah bertransformasi menjadi ruang strategis yang mempertemukan ide, produksi, hingga pasar dalam satu kawasan terintegrasi. Dengan konsep ini, investor tidak perlu lagi memulai dari nol ketika ingin mengembangkan usaha di Aceh.

“Semua sudah kita siapkan di sini. Investor datang, langsung bisa produksi, uji kualitas, hingga pemasaran. Ini efisiensi yang sangat besar,” katanya.

Menurut Iskandarsyah, kehadiran fasilitas lengkap seperti rumah produksi, laboratorium uji kualitas, hingga ruang kreatif menjadikan Gedung AMANAH sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru yang potensial di Aceh.

Ini momentum. AMANAH sudah siap, Aceh sudah siap. Tinggal bagaimana kita bersama-sama menangkap peluang ini,” terangnya.

Ia bahkan menyebut, AMANAH dirancang sebagai “one stop business hub” yang mampu menjawab berbagai kendala klasik investasi di daerah, mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia, hingga standar produksi.

“Selama ini investor sering ragu karena ekosistem belum siap. Nah, di AMANAH ini kita jawab semua itu. Tinggal masuk dan jalankan bisnis,” tegasnya.

Lebih lanjut, Iskandarsyah menilai Aceh memiliki banyak komoditas unggulan yang selama ini belum dimaksimalkan nilai tambahnya, seperti nilam, sektor pertanian, hingga perikanan.

Dengan dukungan fasilitas modern, ia optimistis produk-produk lokal Aceh mampu menembus pasar global. “Nilam kita, misalnya, sekarang sudah bisa diuji kualitasnya di sini dengan standar internasional. Ini peluang besar bagi investor di sektor parfum dan kosmetik,” jelasnya.

Tak hanya itu, sektor energi terbarukan dan teknologi juga menjadi fokus pengembangan AMANAH. Kehadiran bengkel konversi motor listrik hingga pemanfaatan panel surya dinilai membuka peluang investasi baru yang lebih berkelanjutan.

“Ini bukan hanya bicara ekonomi hari ini, tapi masa depan. Kita siapkan Aceh sebagai bagian dari ekosistem ekonomi hijau,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa relaunching ini menandai fase baru penguatan peran AMANAH sebagai pusat hilirisasi dan inovasi.

Ia menyebut, AMANAH telah dirancang sejak 2022 dan kini berkembang mengikuti arah pembangunan nasional. “Ini adalah ekosistem dari hulu ke hilir. Dari produksi, pengolahan, sampai pemasaran, semua kita hadirkan untuk mendukung UMKM dan industri kreatif,” kata Syaifullah.

Di atas lahan sekitar lima hektare, berbagai fasilitas telah tersedia, mulai dari greenhouse pertanian, sistem bioflok perikanan, hingga peternakan sapi untuk mendukung sektor pangan.

Selain itu, terdapat pula rumah kemasan, studio kreatif, co-working space, hingga fasilitas produksi kosmetik dan parfum berstandar.

Salah satu fasilitas unggulan adalah laboratorium pengujian minyak nilam dengan teknologi GCMS yang memungkinkan hasil uji keluar dalam waktu singkat, sehingga mempercepat transaksi dan meningkatkan kepercayaan pasar.

“Kalau dulu harus kirim ke luar negeri, sekarang cukup satu hari. Ini mempercepat perputaran ekonomi masyarakat,” jelasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI