DIALEKSIS.COM | Feature - Ada orang yang dikenang karena pidatonya. Ada pula yang tinggal dalam ingatan publik karena keberanian, kegigihan, dan cara ia berdamai dengan perubahan zaman. Kautsar Muhammad Yus termasuk nama yang jatuh ke kategori terakhir itu. Ia dikenal luas sebagai salah satu legenda dalam gerakan masyarakat sipil, sosok yang pernah berdiri tegak di jalan panjang aktivisme, lalu menyeberang ke dunia politik, sebelum akhirnya menemukan babak ketiganya sebagai pengusaha kopi.
Perjalanan itu tak sekadar soal pergantian profesi. Ia adalah cerita tentang manusia yang tak selesai oleh satu identitas. Tentang seseorang yang berkali-kali menanggalkan kulit lama, namun tetap membawa bara yang sama terlihat keyakinan bahwa hidup harus terus bergerak, dan mimpi tak pernah punya tanggal kedaluwarsa.
Kisah itu kembali mengemuka lewat sebuah tulisan di laman Facebook miliknya yang terbit pada 10 Mei 2026. Tulisan itu bukan hanya catatan pribadi, melainkan juga sejenis surat sunyi yang menembus batas waktu. Di sana, Kautsar membuka kembali memori tahun 2010, saat almarhumah istri tercintanya, Arabiyani, mengajaknya mengembangkan usaha kopi Gayo.
Ia menolak. Bahkan sempat mengabaikan gagasan itu.
Saat itu, menurut penilaiannya, kopi arabika Gayo belum cukup familiar di Indonesia. Baginya, citra kopi arabika lebih dekat dengan pasar Eropa dan Amerika. Sementara di Aceh dan di banyak sudut Indonesia, kopi robusta masih lebih akrab di lidah dan percakapan orang banyak.
Namun, Arabiyani tidak membalas dengan perdebatan yang gaduh. Ia tidak memaksa. Ia membiarkan perbedaan pendapat itu lewat begitu saja. Dalam cara yang tenang itulah, Kautsar kemudian menulis, karakter sang istri justru selalu menemukan pembenaran di akhir cerita. Tidak frontal, tidak meledak-ledak, tetapi keyakinannya kerap terbukti lebih tepat dari analisis yang ia ajukan.
Ada getir yang halus dalam pengakuan itu. Di balik kalimat-kalimat singkatnya, tersimpan pengertian yang dalam, bahwa terkadang hidup baru memperlihatkan kebenaran setelah seseorang pergi. Dan kadang, penyesalan datang bukan karena kita tidak pernah mendengar, melainkan karena kita baru paham setelah kehilangan suara yang pernah menyarankan.
Tahun-tahun berlalu. Pada 2023, Kautsar mulai membangun perkebunan kopi arabika dalam skala kecil. Dua tahun kemudian, ia melangkah lebih jauh: mulai mengemas dan menjual kopi itu secara retail melalui Tokopedia dan Shopee untuk pasar seluruh Indonesia. Dari sana, perjalanan yang dulu sempat ia sangkal justru menjelma menjadi jalan yang ia tekuni dengan kesungguhan.
Ia bahkan menulis dengan nada yang nyaris berseloroh sekaligus haru: andai Arabiyani masih hidup, perempuan itu pasti akan menertawakannya. Sebab, berapa pun keras kepala seseorang, waktu kerap mengajarkan bahwa yang dulu ditolak bisa menjadi yang paling diyakini. Yang dulu dianggap kecil, bisa tumbuh menjadi masa depan.
Dan benar, seperti pengakuannya, kopi arabika kini bukan lagi sekadar pilihan minor di antara jenis kopi lain. Ia telah menjadi selera baru yang terus menggeser kebiasaan lama. Di banyak ruang, kopi arabika bukan hanya diminum, tetapi dibicarakan, dicari, dan dijadikan simbol gaya hidup baru. Dalam titik itulah, Kautsar seperti menemukan babak baru dalam hidupnya, bahwa ia bukan lagi sebagai aktivis yang bersuara lantang, bukan pula semata politikus yang bernegosiasi dalam gelanggang kuasa, melainkan seorang peracik asa yang mengubah tanah, biji, dan kenangan menjadi makna.
Namun, bagian paling menyentuh dari kisah ini justru tidak berhenti pada bisnis. Pada bungkus Kopi Buntul, Kautsar mendedikasikan gambar perempuan berkerudung Gayo sebagai lambang sosok Arabiyani. Di situ, kopi tidak sekadar menjadi komoditas. Ia berubah menjadi penanda cinta, penghormatan, dan ingatan yang tidak hendak hilang.
Gambar itu seperti cara diam-diam untuk berkata ,"kau tetap hadir di sini". Di biji yang disangrai, di aroma yang naik perlahan, di setiap kemasan yang keluar menuju pembeli, dan di seluruh cerita yang belum selesai meski tubuhmu telah lebih dulu pergi.
Arabiyani, dalam penggambaran Kautsar, adalah perempuan Gayo yang berdedikasi, cerdas, tekun, detail, rajin, pekerja keras, dan memiliki solidaritas tinggi. Rangkaian sifat itu bukan hanya pujian, melainkan juga fondasi moral dari sebuah usaha. Karena pada akhirnya, Kopi Buntul bukan cuma produk yang ingin dijual. Ia adalah warisan emosi, penghormatan pada pandangan yang semula diabaikan, sekaligus penanda bahwa cinta kadang punya cara paling sederhana untuk bertahan untuk menjadi karya.
Pada 10 Mei, hari ketika Arabiyani berulang tahun yang ke-50, Kautsar menuliskan kerinduan dengan kalimat yang lirih tetapi penuh daya. Ia mengenang seluruh kebaikan almarhumah, lalu menutupnya dengan doa yang terasa amat personal: agar ia tidur dalam ketenangan dan ketentraman.
Kalimat penutup itu lebih dari sekadar perpisahan. Ia adalah cara seseorang memeluk kehilangan tanpa harus memalingkan muka dari kenyataan. Bahwa semua manusia, pada waktunya, akan pergi ke tempat yang memang sejak awal bukan miliknya. Dan sebelum hari itu tiba, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjaga yang tinggal melalui merawat kenangan, pekerjaan, dan cinta yang masih berdenyut dalam bentuk paling sederhana.
Dari aktivis, politisi, lalu pengusaha kopi, Kautsar Muhammad Yus tampak telah menempuh tiga kali transformasi besar. Tetapi mungkin, di antara semua perubahan itu, yang paling penting justru bukan karier yang berganti, melainkan kemampuan untuk tetap belajar dari hidup, termasuk dari seseorang yang telah lebih dulu berpulang.
Dan dari Kopi Buntul, cerita itu kini beraroma lebih dari sekadar kopi. Ia membawa jejak keyakinan, penyesalan, penghormatan, dan cinta yang tetap bertahan, bahkan ketika waktu sudah berjalan terlalu jauh.