Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Feature / Sesuap Nasi Dalam Bayangan Maut

Sesuap Nasi Dalam Bayangan Maut

Jum`at, 10 April 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Terseret arus sungai, di Kemenyen, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, namun mereka tetap bertahan demi sesuap nasi dan buah hati (Foto/ tangkapan layar video warga)

DIALEKSIS.COM | Feature - Aliran sungai deras setinggi lutut, berwarna cokelat pekat harus dilalui. Harap harap cemas untuk sampai ke seberang. Raungan sepeda motor yang membawa kopi baru dipetik mengikuti irama percikan air.

Ketika melintas, sepeda motor itu terbalik. Secepatnya para petani lainya di Kemenyen, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, Provinsi Aceh ini memberikan pertolongan. Menyelamatkan dari seretan arus sungai. Terikan histeris terdengar dari kaum wanita yang sudah terlebih dahulu berada di seberang sungai.

Rata-rata sepeda motor yang mengangkut kopi itu terbalik diseret arus sungai. Dengan sigap pesepeda motor lainya memberikan bantuan dan menuntunya, agar tidak ada korban jiwa. Pemandangan “mengerikan” itu kini viral di dunia maya. Kamis (10/4/2026) videonya tersebar.

“Inilah keadaan kami, semuanya harus kami lalui karena ini sumber penghidupan kami. Tidak sayangkah, tegakah Bapak melihat keadaan kami,” sebut salah seorang ibu yang baru melintasi luapan sungai Simpang Kemenyen, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.

Demi sesuap nasi, demi anak-anak, tantangan maut harus mereka hadapi. Tidak ada pilihan lain, bila ingin tetap hidup dan anak-anaknya tidak kelaparan, mereka harus tangguh dalam menghadapi intaian maut.

Mereka tidak mau menjadi pengemis. Apa yang bisa dilakukan demi sesuap nasi, akan mereka lakukan walau itu tantanganya maut. “Selagi kami masih bisa berusaha, apapun itu akan kami lakukan demi anak-anak,” sebut Aman Alip, salah seorang petani di Kawasan Kemenyen ini.

5 bulan paska bencana hidrometeorolagi, pada akhir November 2025 lalu, sumber penghidupan masyarakat mengalami kerusakan parah. Bukan hanya sector pertanian dan perkebunan, namun seluruh sisi kehidupan terkena amukan banjir bandang.

Pemandangan penyeberangan sungai yang dilakukan warga Bintang di Aceh Tengah ini, bukan hanya dialami warga di sana. Namun penghidupan yang memprihatinkan itu menyeluruh di kawasan terkena bencana.

Akses jalan yang menantang maut tersebar di seluruh wilayah pegunungan Aceh ini. Bukan hanya jalan kecamatan dan kabupaten, namun jalan yang menjadi tanggungjawab provinsi dibiarkan rusak, tanpa ada perbaikan yang serius sampai hari ini.

Teriakan kepada pemerintah provinsi untuk turun tangan memperhatikan akses jalan dan sarana umum, senantiasa dikumandangkan. Namun sampai saat ini pemerintah provinsi Aceh tidak serius menanganinya.

Bahkan, seperti di wilayah Pase, Bener Meriah, akses jalan yang menghubungkan Bener ke Aceh Utara, kondisinya rusak parah dibiarkan pemerintah provinsi. Banyak korban yang berjatuhan di ruas jalan ini.

Tidak tahan dengan penderitaan itu, akhirnya masyarakat secara swadaya memperbaiki ruas jalan itu agar nyaman dilalui kenderaan. Namun peluh keringat dan sumbangan ihlas masayarakat itu, kini kembali porak poranda dilanda banjir susulan.

Catatan Dialeksis.com, swadaya masyarakat itu bukan hanya di satu titik. Hampir diseluruh wilayah yang akses jalan sumber penghidupan diterlantarkan pihak provinsi, masyarakatnya bahu membahu memperbaiknya.

Masyarakat pengunungan Aceh dengan sumber penghidupan andalan dari kopi dan pertanian ini, juga mengkritisi wakil mereka di DPRA yang terkesan diam, membiarkan masyarakat berjuang sendiri dalam bayang bayang maut.

Kritikan itu bukan hanya disampaikan para pemerhati social, LSM, tokoh masyarakat, namun kritikan kepada pemerintah Aceh dan pihak DPRA senentiasa tersebar di dunia maya, baik di tiktok, FB, Instagram dan media maenstrem cukup banyak meramaikanya.

Namun hingga kini, ditambah kondisi alam yang tidak bersahabat, hujan yang menguyur bumi, teriakan masyarakat yang peduli itu, tertutup kabut. Para pihak yang punya wewenang untuk mengambil kebijakan, sampai saat ini belum serius memperhatikanya.

Teriakan itu terus menggema, para korban amukan bencana mengharapkan negara serius membela mereka. Pihak provinsi bukan hanya diam, pemda kabupaten juga jangan menutup mata. Para politikus jangan hanya bisa mencari panggung.

“Kami tetap bekerja apa yang bisa kami lalukan. Kadang kala dalam hujan, jalan berlumpur, kayu dan batu masih turun dari gunung, kami tetap bergerak. Daripada kami mati hari ini, lebih baik kami mati besok,” sebut Dedi Suherman, salah seorang warga Dedamar, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.

“Tidak mungkin kami diam. Kami tahu itu tantanganya maut. Namun kami harus bergerak demi sesuap nasi, demi anak-anak kami. Kalau pemerintah membiarkan kami seperti ini, itu tanggungjawabnya dengan Tuhan,” sebut Riadi Aman Alip, warga Bintang lainya.

Demi sesuap nasi mereka terus bergerak. Ancaman maut itu mereka sadari, namun tidak ada pilihan lain. Kalau diam berarti mereka akan mati, masa depan anak-anaknya tidak jelas. Demi sesuap nasi dan buah hati, semua tantangan itu mereka lalui.

Sejerah telah mencatatnya, ketika negeri ini kolaps, rakyat terancam kelaparan ketika awal bencana, warga di negeri penghasil kopi ini tidak diam. Mereka berjalan berhari-hari hari demi bertahan hidup, demi sibuah hati agar tidak mati kelaparan. [bg]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI