Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Haba Ramadan / Lemang Tradisional Tetap Jadi Tradisi Menu Berbuka di Aceh

Lemang Tradisional Tetap Jadi Tradisi Menu Berbuka di Aceh

Sabtu, 28 Februari 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Lemang, kuliner khas Aceh jadi menu favorit berbuka puasa, dibakar di kawasan Lamdingin, Banda Aceh. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang bulan suci Ramadhan, aroma asap bambu dan santan yang terbakar perlahan kembali menguar di kawasan Lamdingin, Banda Aceh. Di sebuah gubuk sederhana tanpa dinding, lemang tradisional diproduksi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga yang mencari menu berbuka puasa.

Lemang, kuliner khas Aceh berbahan dasar beras ketan dan santan, dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang, lalu dibakar perlahan di atas bara api. Prosesnya memakan waktu hingga empat jam dan harus diawasi terus-menerus agar matang merata.

Hafsah yang akrab disapa Nek Hafsah telah menekuni usaha ini sejak tahun 2000. Selama lebih dari dua dekade, ia mempertahankan teknik pembakaran tradisional demi menjaga cita rasa.

“Tidak semua orang ahli buat lemang. Kalau bara api tidak rata, matangnya cuma di ujung atau luarnya saja, nanti keras lemangnya,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Sabtu (28/2/2026).

Selama Ramadhan, aktivitas produksi dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Nek Hafsah dibantu sekitar 12 pekerja yang bertugas mencuci dan merendam ketan, menyiapkan bambu, memeras santan, hingga menjaga bara api tetap stabil.

Permintaan lemang meningkat signifikan saat bulan puasa.

Jika hari biasa penggunaan ketan berkisar 25“40 kilogram per hari, maka selama Ramadhan bisa mencapai sekitar 75 kilogram per hari. Selain lemang ketan, tersedia juga lemang ubi dengan kebutuhan sekitar 15 kilogram per hari.

Penjualan dimulai pukul 16.00 WIB menjelang waktu berbuka. Harga per bambu berkisar Rp90.000 hingga Rp100.000, sedangkan pembelian eceran mulai Rp10.000 per potong. Pembeli dapat memilih pendamping berupa selai srikaya atau tape manis.

Salah satu pelanggan, Zahran (32), warga Banda Aceh, mengaku hampir setiap Ramadhan ia menyempatkan diri membeli lemang untuk berbuka bersama keluarga.

“Setiap masuk bulan puasa, saya pasti cari lemang. Rasanya seperti sudah jadi kebiasaan turun-temurun. Dari kecil, orang tua saya juga selalu beli lemang untuk berbuka. Jadi sekarang kalau tidak ada lemang di meja, rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Menurut Zahran, lemang bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal suasana. Aroma khas bambu yang terbakar dan tekstur ketan yang lembut menghadirkan nuansa Ramadhan yang berbeda.

“Yang saya suka itu teksturnya lembut, tidak keras, dan santannya terasa. Ditambah srikayanya yang manisnya pas, tidak berlebihan. Kalau dimakan hangat-hangat menjelang magrib, itu nikmat sekali,” katanya.

Ia juga menilai, di tengah banyaknya pilihan takjil modern, lemang tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

“Sekarang memang banyak makanan kekinian, tapi lemang itu beda. Prosesnya tradisional, pakai bambu, dibakar lama. Mungkin karena itu rasanya lebih khas dan terasa lebih ‘rumahan’. Buat saya, lemang itu bukan cuma makanan, tapi bagian dari kenangan Ramadhan,” tutur Zahran. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI