DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Suasana bulan suci Ramadan 1447 Hijriah terasa begitu hidup di halaman Masjid Raya Baiturrahman.
Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, ribuan masyarakat dari Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar memadati kawasan masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut untuk menikmati momen berbuka bersama.
Warga datang dari berbagai penjuru daerah dengan membawa aneka makanan dan minuman dari rumah. Sebagian lainnya membeli takjil di sekitar kawasan festival Ramadan yang berada di sekitar masjid.
Hamparan lantai marmer yang luas, dipadukan dengan payung raksasa yang menjadi ikon masjid, membuat suasana berbuka puasa terasa nyaman dan penuh kehangatan kebersamaan.
Salah seorang pemuda yang datang untuk berbuka puasa di halaman masjid, Zahran, mengaku sengaja datang lebih awal agar bisa menikmati suasana Ramadan di Masjid Raya.
“Saya tinggal di Ulee Lheu. Sengaja datang ke sini supaya bisa merasakan suasana Ramadan langsung dari Masjid Raya Baiturrahman,” kata Zahran kepada awak media dialeksis.com, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, bagi masyarakat yang ingin berbuka puasa di halaman masjid, datang lebih awal menjadi hal yang penting karena tempat duduk biasanya cepat penuh.
“Kalau datang terlambat biasanya sudah tidak kebagian tempat. Jadi saya datang lebih cepat supaya bisa duduk bersama teman-teman sambil menunggu waktu berbuka,” ujarnya.
Zahran juga mengaku membawa makanan dari rumah, namun tetap menyempatkan diri membeli jajanan di sekitar festival Ramadan yang berada di dekat kawasan masjid.
“Saya membawa makanan dari rumah, tapi juga beli beberapa jajanan di festival Ramadan yang ada di dekat masjid,” tambahnya.
Bagi Zahran, berbuka puasa di Masjid Raya Baiturrahman memiliki keistimewaan tersendiri karena setelah menikmati hidangan berbuka, jamaah dapat langsung melaksanakan salat magrib berjemaah di masjid.
“Begitu selesai berbuka puasa, kita bisa langsung ikut salat magrib berjemaah. Setelah itu biasanya saya lanjut salat tarawih di sini juga,” katanya.
Tidak hanya kalangan pemuda, suasana berbuka puasa di Masjid Raya Baiturrahman juga menarik minat banyak keluarga untuk datang bersama.
Balqis, seorang ibu dua anak yang turut berbuka puasa di halaman masjid, mengatakan bahwa momen Ramadan di tempat tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi keluarganya.
“Saya datang bersama anak-anak. Suasana di sini sangat nyaman dan ramai, jadi mereka juga senang,” ujar Balqis.
Ia menuturkan, berbuka puasa di Masjid Raya memberikan nuansa kebersamaan yang berbeda dibandingkan berbuka di rumah.
“Tempatnya nyaman, setelah berbuka kita bisa langsung salat berjamaah. Biasanya kami juga lanjut sampai salat tarawih sebelum pulang,” katanya.
Balqis menilai Masjid Raya Baiturrahman memang menjadi salah satu tempat favorit masyarakat untuk beribadah ketika berada di Banda Aceh.
“Kalau ke Banda Aceh, rasanya belum lengkap kalau belum salat di Masjid Raya,” ujarnya.
Selain menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam, Masjid Raya Baiturrahman juga memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.
Masjid yang menjadi ikon Kota Banda Aceh ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh pemerintah.
Penetapan tersebut dilakukan dalam rangkaian kegiatan Aceh Ramadan Festival dan peringatan Malam Nuzulul Quran pada 6 Maret 2026. Penyerahan sertifikat pengakuan tersebut disaksikan oleh Tito Karnavian bersama Fadhlullah.
Sertifikat itu diserahkan oleh perwakilan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bentuk pengakuan atas nilai sejarah, arsitektur, dan budaya Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh sekaligus warisan penting bagi bangsa Indonesia.
Keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman juga menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata religi yang paling populer di Aceh.
Masjid yang selesai direnovasi pada tahun 2017 ini memiliki halaman luas dengan lantai marmer putih serta payung elektrik raksasa yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. [nh]