DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, optimistis pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 2 di Kota Subulussalam dapat selesai tepat waktu meskipun sempat menghadapi tantangan pengadaan dan distribusi material konstruksi akibat kondisi geografis wilayah tersebut.
Dody menjelaskan, posisi Kota Subulussalam yang berada di kawasan perbatasan serta jauh dari pusat distribusi material menyebabkan proses pengiriman bahan konstruksi, khususnya baja dan material berat lainnya, membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan daerah lain.
"Kita harus mengakui bahwa lokasi Subulussalam cukup menantang dari sisi logistik. Mengangkut material ke sini tidak mudah. Bahkan perjalanan darat menuju lokasi saja cukup berat, apalagi untuk mengangkut material konstruksi dalam jumlah besar," ujar Dody yang dilansir pada Selasa (16/6/2026).
Untuk memastikan proyek tetap berjalan sesuai target, Dody mengaku turun langsung ke lapangan guna mencari berbagai solusi percepatan pembangunan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah mengoptimalkan penggunaan struktur beton pada beberapa bagian bangunan untuk mengurangi ketergantungan terhadap material baja yang proses pengirimannya lebih kompleks.
"Kita sedang mencari metode kerja yang lebih efektif. Beberapa titik yang semula direncanakan menggunakan baja akan kita evaluasi untuk sebagian diganti dengan beton agar pelaksanaan konstruksi bisa lebih cepat tanpa mengurangi kualitas bangunan," katanya.
Menurut Dody, secara keseluruhan progres pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 2 menunjukkan perkembangan yang positif. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, pekerjaan konstruksi telah mencapai sekitar 60 persen.
"Kalau melihat kondisi di lapangan, progresnya sudah sekitar 60 persen. Kita akan terus mencari cara terbaik, tercepat, dan paling efektif untuk menyelesaikan pembangunan ini. Yang terpenting bukan hanya cepat selesai, tetapi juga menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang," ujarnya.
Berdasarkan laporan pelaksanaan per 13 Juni 2026, ketersediaan material di lokasi proyek telah mencapai sekitar 62 persen. Sementara itu, sisa kebutuhan material masih dalam proses pengiriman menuju Kota Subulussalam.
Pemerintah juga menerapkan berbagai langkah percepatan pembangunan, di antaranya pengiriman material melalui jalur laut dan udara, penyediaan batching plant di area proyek, penambahan alat berat, serta dukungan personel TNI.
Sekolah Rakyat Aceh 2 Kota Subulussalam dibangun di atas lahan seluas 6,8 hektare dengan kontraktor pelaksana PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Proyek tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp453,3 miliar.
Kawasan pendidikan terpadu itu dirancang untuk mendukung proses belajar yang komprehensif melalui penyediaan berbagai fasilitas pendidikan dan penunjang. Fasilitas tersebut meliputi gedung SD, SMP, dan SMA, asrama siswa, rumah susun guru, masjid, gedung serbaguna, lapangan mini soccer, lapangan basket dan voli, serta fasilitas pendukung lainnya.
Pembangunan Sekolah Rakyat di Subulussalam diharapkan dapat memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan, sekaligus menjadi investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. [*]