Sabtu, 13 Juni 2026
Beranda / Berita / Nasional / Sudah ke Baitullah, Tapi Sudahkah Hatinya Bertemu Allah?

Sudah ke Baitullah, Tapi Sudahkah Hatinya Bertemu Allah?

Jum`at, 12 Juni 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ustadz Fathurrahmi, S.Si., M.Si. [Foto: Tangkapan layar YouTube Ayo Lebih Baik Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Lebih dari itu, haji adalah perjalanan ruhani yang seharusnya melahirkan perubahan hati, perilaku, dan cara hidup seorang hamba.

Hal itu disampaikan Ustadz Fathurrahmi, S.Si., M.Si., dalam refleksi spiritualnya tentang makna ibadah haji. Menurutnya, tidak sedikit orang yang secara fisik telah sampai di hadapan Ka’bah, tetapi secara batin masih jauh dari Allah SWT.

“Ya Allah, betapa banyak orang sudah pergi berhaji untuk bertawaf dan bersimpuh di hadapan Ka’bah, rumah-Mu. Fisiknya menyentuh lantai masjid-Mu, kepalanya tunduk di hadapan Ka’bah. Mereka sampai di rumah suci-Mu, berpakaian ihram sebagai lambang kesucian yang putih bersih,” ujar Fathurrahmi kepada Dialeksis, Jumat (12/6/2026).

Namun, kata dia, perjalanan ke Baitullah tidak akan bermakna apabila tidak disertai dengan perubahan hati. Sebab, haji yang mabrur semestinya meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan seseorang setelah kembali ke tanah air.

“Tapi banyak di antara mereka hatinya jauh dari-Mu. Mereka sampai ke rumah-Mu, tetapi sebenarnya tidak bertemu dengan-Mu. Hatinya tertutup meski matanya terbuka,” katanya.

Fathurrahmi menegaskan, ukuran keberhasilan ibadah haji tidak hanya dilihat dari telah sampainya seseorang ke Tanah Suci, melainkan dari perubahan akhlak setelah menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Menurutnya, haji seharusnya mampu membersihkan jiwa dari sifat tamak, kikir, riya, sombong, zalim, dan kebiasaan mengambil rezeki dari sumber yang tidak halal.

“Haji tidak mengubah apa-apa jika rezekinya masih diambil dari sumber yang haram. Kezalimannya tidak berkurang, kikir dan tamaknya tetap melekat, ujub dan riya masih dipelihara. Pejabat tetap korup, orang kaya tetap sombong, orang alim tetapi riya dan ujub, menipu dianggap biasa, menyakiti orang lain menjadi kebiasaan,” ucapnya.

Ia mengingatkan, pakaian ihram yang putih bersih bukan hanya simbol lahiriah, tetapi pesan agar manusia kembali kepada kesucian jiwa. Ihram, kata Fathurrahmi, mengajarkan kesetaraan, kerendahan hati, dan kepasrahan total di hadapan Allah SWT.

“Di hadapan Ka’bah, tidak ada pangkat, tidak ada jabatan, tidak ada kekayaan yang bisa dibanggakan. Semua manusia sama, hanya amal dan ketakwaan yang menjadi ukuran. Maka sangat merugi jika seseorang pulang berhaji, tetapi hatinya tetap keras, lisannya tetap menyakiti, tangannya tetap mengambil hak orang lain,” ujarnya.

Fathurrahmi juga mengajak umat Islam menjadikan momentum haji sebagai cermin untuk menilai diri sendiri, bukan untuk merasa lebih suci dari orang lain. Menurutnya, setiap muslim perlu bertanya kepada hati masing-masing, apakah ibadah yang dilakukan benar-benar mendekatkan diri kepada Allah atau hanya menjadi kebanggaan sosial.

“Haji bukan gelar untuk dipamerkan, tetapi amanah untuk dijaga. Jangan sampai seseorang bangga dipanggil haji, tetapi tetangganya tidak aman dari lisannya, bawahannya terzalimi oleh kebijakannya, dan masyarakat dirugikan oleh perbuatannya,” kata Fathurrahmi.

Ia berharap, siapa pun yang telah diberi kesempatan berhaji dapat pulang membawa perubahan besar dalam hidupnya. Bukan hanya menjadi pribadi yang lebih rajin beribadah, tetapi juga lebih jujur, rendah hati, dermawan, lembut, dan takut kepada Allah dalam setiap keputusan.

“Semoga mereka yang telah berhaji benar-benar pulang dengan hati yang baru. Hati yang lebih takut kepada Allah, lebih mencintai kebaikan, lebih menjauhi kezaliman, dan lebih peduli kepada sesama,” ujarnya.

Di akhir refleksinya, Fathurrahmi memanjatkan doa agar dirinya dan keluarga juga diberi kesempatan menjadi tamu Allah di Baitullah dengan hati yang bersih dan jiwa yang tunduk.

“Ya Allah, undanglah kami sekeluarga ke rumah-Mu, Baitullah. Dengan jiwa dan raga kami bersimpuh di hadapan-Mu. Sucikanlah kami seputih kain ihram. Jangan hanya Engkau izinkan kami melihat Ka’bah dengan mata, tetapi pertemukanlah hati kami dengan-Mu,” pungkasnya. [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI