Kamis, 29 Oktober 2026
Beranda / Berita / Nasional / Wahyu Dhyatmika di IDMC 2026: Model Bisnis Media Runtuh, Saatnya Lahir Kembali

Wahyu Dhyatmika di IDMC 2026: Model Bisnis Media Runtuh, Saatnya Lahir Kembali

Rabu, 28 Oktober 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika mendorong media berani bertransformasi menghadapi krisis model bisnis, AI, platform digital, dan perubahan perilaku audiens. [Foto: dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Surabaya - Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, mengingatkan perusahaan pers agar berani membenahi cara memproduksi, mendistribusikan, dan membiayai jurnalisme. Menurutnya, perubahan ekosistem informasi telah mengguncang model bisnis media sekaligus menguji hubungan pers dengan pembacanya.

“Model bisnis yang selama ini menghidupi perusahaan media kita sedang runtuh,” kata Wahyu dalam sambutannya pada pembukaan Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 di Surabaya di dengar langsung Dialeksis saat menghadir acara tersebut, Rabu (28/10/2026).

Konferensi yang berlangsung pada 28-29 Oktober 2026 tersebut mengangkat tema Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI and Content Creator.

Wahyu menggambarkan persoalan itu melalui cerita seorang rekannya yang mendirikan media lokal setelah kehilangan pekerjaan sebagai wartawan di Jakarta. Berbekal pengalaman belasan tahun, rekannya berharap dapat membangun jurnalisme yang bermanfaat bagi daerahnya. Namun, ketiadaan pendapatan membuat media tersebut berhenti beroperasi dan para jurnalisnya kehilangan pekerjaan.

“Satu lagi suara lokal hilang. Satu lagi daerah kehilangan penjaganya,” ujarnya.

Menurut Wahyu, cerita serupa datang dari berbagai daerah di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Pendapatan menyusut, iklan berkurang, trafik menurun, sementara kontrak kerja sama tidak diperpanjang.

Ia mengidentifikasi tiga tekanan utama yang dihadapi industri pers: distribusi berita yang semakin bergantung pada platform, mesin pencari yang berubah menjadi penyedia jawaban berbasis kecerdasan buatan atau AI, serta persoalan kepercayaan publik.

Perubahan distribusi membuat masyarakat semakin banyak menjumpai berita melalui media sosial dan platform video. Dalam ruang tersebut, kreator konten menjadi sosok yang dikenal dan dipercaya audiens.

Pada saat bersamaan, ringkasan yang disajikan AI memungkinkan pengguna memperoleh informasi tanpa mengunjungi situs media. Wahyu menyebut riset AMSI bersama Monash menemukan dampak negatif yang signifikan terhadap klik pada enam dari 13 media yang diteliti setelah hadirnya Google AI Overview.

“Karya kita diambil. Nilainya dinikmati pihak lain. Biayanya kita yang tanggung,” katanya.

Tekanan lainnya menyangkut kepercayaan. Wahyu mengingatkan bahwa meningkatnya kecemasan masyarakat terhadap informasi palsu semestinya mendorong media mengevaluasi kualitas dan integritas kerjanya sendiri.

Baginya, persoalan industri pers berakar pada model bisnis dan cara kerja yang dibangun untuk ekosistem informasi yang kini telah berubah. Karena itu, gagasan media “lahir kembali” harus diwujudkan melalui keberanian memperbarui diri.

“Lahir kembali berarti berani melepaskan sebagian dari diri kita yang lama, supaya yang esensial bisa bertahan,” ujarnya.

Wahyu menawarkan tiga langkah pembaruan. Pertama, mendefinisikan ulang jurnalisme dengan menempatkan pencarian dan pengujian kebenaran sebagai inti pekerjaan redaksi.

Ia menilai ukuran keberhasilan yang bertumpu pada jumlah berita, kecepatan, dan klik perlu ditinjau kembali. Di tengah perkembangan AI, peliputan lapangan, verifikasi, penggalian dokumen, serta penjelasan konteks menjadi kekuatan yang harus dijaga.

“Jurnalisme harus kembali menjadi kerja menemukan dan menguji kebenaran, bukan sekadar memproduksi konten,” tegasnya.

Kedua, mendefinisikan ulang media sebagai penghubung antara redaksi, pembaca, komunitas, dan mitra usaha. Dalam kerangka itu, ia mengajak wartawan lebih berani hadir di berbagai platform dengan wajah, suara, dan standar jurnalistik yang jelas.

“Kawan-kawan, content creator bukan musuh kita. Mereka membuktikan satu hal: publik ingin mendengar dari manusia yang mereka kenal dan percaya,” katanya.

Selain tampil sebagai kreator, wartawan dan perusahaan media dapat menjalin kemitraan dengan kreator konten untuk membawa praktik verifikasi dan etika jurnalistik ke ruang yang lebih luas.

Pembaruan juga perlu menyentuh sumber pendapatan. Wahyu menyebut langganan, keanggotaan, penyelenggaraan acara, komunitas, riset, data, hingga lisensi arsip dan konten sebagai peluang yang dapat dikembangkan sesuai kekuatan masing-masing media.

Ia mencontohkan pengalaman Tempo. Menurut Wahyu, pada tahun sebelumnya jumlah pageview Tempo turun 33,5 persen, sementara pelanggan digitalnya meningkat hampir 36 persen.

“Trafik turun tidak otomatis berarti nilai jurnalisme turun. Ini bukan cerita sukses. Ini cerita belajar. Dan kami masih belajar,” ujarnya.

Ketiga, menemukan kembali relevansi media bagi audiens. Wahyu mengajak pengelola pers mengajukan pertanyaan mendasar tentang manfaat kerja jurnalistik bagi kehidupan pembaca.

“Masalah apa dalam hidup pembaca yang kita bantu selesaikan?” katanya.

Pembaca, menurutnya, membutuhkan penjelasan dan perspektif untuk mengambil keputusan, mulai dari harga kebutuhan pokok, pendidikan anak, ancaman banjir, hingga kebijakan pemerintah.

Dalam hal ini, media lokal memiliki kekuatan berupa kedekatan dengan warga. Pengetahuan tentang jalan rusak, sekolah yang kekurangan guru, atau anggaran yang tidak sampai kepada masyarakat merupakan modal penting untuk menghasilkan jurnalisme yang dibutuhkan.

Wahyu juga menekankan perlunya gerakan bersama. Ia menyebut lebih dari 500 media anggota AMSI dapat membangun daya tawar kolektif dalam berhadapan dengan perusahaan teknologi global. Upaya itu antara lain ditempuh melalui dorongan revisi Undang-Undang Hak Cipta, lisensi kolektif, dan negosiasi bersama.

“Kita tidak menolak teknologi dan platform. Kita menuntut hubungan yang adil,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Wahyu meminta peserta IDMC membawa pulang satu eksperimen produk, format, atau cara baru melayani audiens untuk diuji dalam enam bulan berikutnya. Ia juga mengajak peserta menemukan mitra dan memperkuat advokasi bersama bagi masa depan jurnalisme.

“Media tidak akan lahir kembali dengan sendirinya. Kita yang harus melahirkannya,” kata Wahyu. “Dengan jurnalisme yang lebih jujur dan relevan. Dengan bisnis yang lebih berani dan inovatif.” [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI