Senin, 15 Juni 2026
Beranda / Opini / Doto Zaini, Lanskap Ingatan Aceh

Doto Zaini, Lanskap Ingatan Aceh

Minggu, 14 Juni 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Herman RN

Dr. Herman RN. Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala dan pegiat literasi. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Opini - KEPERGIAN seorang pemimpin akan diingat dalam dua hal: cara ia pergi dan yang ditinggalkan setelah pergi.

Kepergian seorang pemimpin perang cenderung dibicarakan apakah karena gugur di medan tempur atau karena tertembak di persembunyian. Kepergian seorang veteran akan dikenang apakah karena sakit atau karena kecelakaan.

Adapun kepergian Doto Zaini, diingat karena ia pergi dalam diam, dengan damai, di pembaringan terakhir Rumah Sakit Zainal Abidin (RSZA), yakni rumah sakit yang ia sendiri turut menginisiasi rehabilitasi dan rekonstruksinya. Pada masa Doto Zaini, RSZA bertambah ruang rawat inap dengan kapasitas hampir 300 ranjang. Di salah satu ruang rawat inap itulah, Abu Doto menghembuskan nafas terakhir, setelah beberapa pekan sempat menjalani perawatan medis.

Di balik cerita kepergian seorang pemimpin, pejuang, atau leader, senantiasa ada lanskap kenangan. Lanskap itu menjadi fragmen sejarah yang diingat, dan tentu mesti dicatat. Manakala lanskap ingatan itu membawa manfaat, orang-orang akan mengenangnya dengan haru-biru. Ibarat hadih maja "Puteh tuleueng di dalam jeurat, mantong teuingat keu guna gata".

Sebaliknya, manakala kenangan itu lebih banyak mudarat atau negatifnya, orang-orang akan membicarakannya sebagai sebuah dendam. Ibarat pepatah, "Puteh tuleueng di dalam tanoh, rugoe ceh-coh ureueng lam donya".

Doto Zaini atau Abu Doto adalah lanskap kenangan positif. Ia fragmen sejarah bagi Aceh, wabil khusus bagi generasi Y, Z, dan Alpha. Generasi Y dan Z bisa dikatakan sebagai Gelifo (generasi gila foto), sedangkan generasi Alpha boleh dilabel dengan Geliko (generasi gila konten).

Ada banyak peninggalan Abu Doto yang kini menghiasi dunia media sosial. Peninggalan tersebut adalah bukti bahwa Abu Doto bukan sekadar gubernur, tapi ia seorang tokoh pembangunan. 12 payung di altar Masjid Raya Baiturrahman, jembatan layang Simpang Surabaya, jembatan terowongan (underpass) Beurawe, jembatan Lamnyong, semua itu menjadi spot foto, menjadi area konten, yang menghiasi media sosial. Semua itu juga menjadi saksi pengurangan macet dan banjir di Banda Aceh.

Selain itu, ada banyak jembatan penghubung lain lintas kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang berhasil dibangun pada masa Abu Doto. Jalan lintas barat-selatan luas dan mulus. Jalan lintas timur-utara bersih dan anggun. Namun, sepeninggalan Abu Doto, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh yang lain, oleh gubernur yang baru, oleh bupati dan walikota yang baru. Jalan berlubang semakin bertambah. Jalan bergelombang semakin parah. Satu biji jembatan lintas Kutablang saja nyaris setahun tidak selesai-selesai.

Abu Doto, dengan latar belakangnya sebagai dokter, berhasil membangun fasilitas RSZA bersandar internasional. Layanan kesehatan diperluas sehingga ia mampu mengurangi kematian ibu dan anak. JKA diperkuat sehingga rakyat bebas berobat tanpa kartu khusus, cukup dengan selembar KTP. Bahkan, prevelansi gizi buruk menurun, angka stunting ditekan, tanpa harus pakai MBG.

Sebagai pemimpin yang lahir di era milenial, Abu Doto berhasil mengembangkan konsep wisata religi di Aceh. Masjid Raya Baiturrahman menjadi ikon wisata religius standar internasional dengan 12 payung elektrik, parkir bawah tanah, tempat wuduk konsep modern, dilengkapi akses penyandang disabilitas.

Sebagai gubernur yang lahir setelah perang, Abu Doto juga mewariskan nilai-nilai luhur perdamaian. Pada masa Abu Doto, partai politik lokal di Aceh berkembang pesat. Parlok lahir semakin banyak, tetapi konflik sosial semakin kecil. Dinamika sosial kesukuan di Aceh memang kompleksitas, tetapi pada masa Abu Doto, ia mampu menunjukkan Aceh masih stabil, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun toleransi.

Sesungguhnya, yang paling abadi dari seorang pemimpin bukanlah pidato-pidatonya. Bukan pula foto-foto yang terpajang di dinding kantor pemerintahan. Namun, keabadian seorang pemimpin adalah seberapa manfaat peninggalan yang masih dirasakan oleh masyarakat setelah ia tiada.

Abu Doto telah pergi. Peninggalannya masih abadi. Kepergiannya adalah sobekan selembar sejarah penting Aceh di era kontemporer. Selamat jalan, Doto Zaini Abdullah. Alfatihah. [**]

Penulis: Dr. Herman RN (Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala, pegiat literasi)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI