Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Artis di Tengah Korban Bencana: Apa yang Masih Terlewat Pemerintah?

Artis di Tengah Korban Bencana: Apa yang Masih Terlewat Pemerintah?

Sabtu, 21 Februari 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Dr. Ainol Mardhiah, M.Si., ahli komunikasi dari Universitas Malikussaleh menyampaikan kehadiran artis ternama sangat penting dari sisi empati sosial, ia menilai narasi institusional pemerintah tentang penanganan pascabencana hingga kini belum cukup kuat di ruang publik. [Foto: dok Unimal]


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah dan sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, sejumlah influencer dan artis papan atas Indonesia melakukan kunjungan kemanusiaan ke Aceh. Kedatangan mereka tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga membuka kembali diskursus soal efektivitas penanganan pascabencana banjir dan longsor yang masih berlangsung.

Dua figur publik yang mencuri perhatian yaitu Luna Maya, istri Maxime Bouttier, yang tampak berada di Aceh untuk menjalani sahur pertama Ramadan 2026 bersama warga dan relawan. Persembahan kebersamaan itu mencapai puncaknya ketika Luna Maya terlihat makan bersama korban di tenda pengungsian.

Tak kalah menarik, Cinta Laura Kiehl juga melakukan kunjungan serupa dengan menyapa anak-anak yang terdampak banjir bandang, menghadirkan momen penuh empati dan perhatian sosial.

Namun fakta di lapangan menunjukkan situasi yang belum tuntas. Di beberapa titik pengungsian, korban bencana masih tinggal di tenda darurat, sementara pembangunan hunian tetap dan rehabilitasi infrastruktur dasar oleh pemerintah pusat belum merata. Fakta ini memperlihatkan masih banyak “pekerjaan rumah” yang perlu diselesaikan.

Untuk memberikan perspektif yang lebih tajam dan mendalam soal fenomena ini, redaksi Dialeksis menghubungi Dr. Ainol Mardhiah, M.Si., ahli komunikasi dari Universitas Malikussaleh. Menurutnya, sementara kehadiran artis ternama sangat penting dari sisi empati sosial, ia menilai narasi institusional pemerintah tentang penanganan pascabencana hingga kini belum cukup kuat di ruang publik.

“Ketika publik menyaksikan artis mendampingi korban secara langsung, itu menjadi momentum emosional yang kuat. Namun, pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus mampu menjelaskan progres substansial bukan sekadar kehadiran simbolik melalui data dan rencana yang konkret,” tegas Dr. Ainol.

Ia menambahkan bahwa ketidakseimbangan antara narasi moral publik dan informasi teknis resmi berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap kinerja pemerintah.

Ahli komunikasi nasional ini, Dr. Ainol merinci beberapa hal penting. Menurutnya, informasi pemerintah tentang tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi yang jelas, akurat, dan terperinci sangat diperlukan. Tanpa itu, publik sulit memahami sejauh mana proses pemulihan telah berjalan.

“Kita punya banyak momen emosional, tapi minim komunikasi teknis yang menjawab: berapa jumlah hunian tetap yang sudah dibangun? Kapan target selesai? Apa kendala di lapangan? Itulah yang publik butuhkan,” ujarnya.

Masih menurut penjelasan dari Dr. Ainol, figur publik seharusnya juga bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan perkembangan program secara akurat, bukan hanya menjadi simbol dukungan.

“Kalau pemerintah memfasilitasi artis dengan data lengkap, mereka justru dapat menjadi ‘jembatan komunikasi’ yang efektif antara pemerintah dan publik,” tambahnya.

Dari realitas yang masih banyak harus dikerjakan pemerintah pusat Dr. Ainol menyarankan langkah-langkah praktis mulai dari menyarankan transparansi data konstruksi rumah, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta jumlah keluarga yang sudah menerima bantuan semua harus bisa diakses masyarakat.

Luna Maya dan Cinta Laura Kiehl. [Foto: Instagram]

“Rincian alokasi dana, progress pengerjaan, dan kendala di lapangan perlu dikomunikasikan secara sistematis. Pakailah kekuatan media sosial secara strategis untuk menyampaikan capaian yang faktual dan terverifikasi kepada publik,” rincinya.

Kehadiran artis dan influencer di kawasan bencana seperti Aceh memang menghadirkan wajah humanis dari fenomena bencana alam. Namun, perhatian publik yang tumbuh dari momen itu harus diimbangi dengan komunikasi kebijakan yang matang dan akuntabel dari pemerintah.

Dr. Ainol menutup sambil memberi pesan tegas namun penuh harapan. "Pemerintah tidak hanya perlu hadir di tempat kejadian, tetapi juga harus hadir dalam pikiran publik melalui komunikasi yang jernih, akurat, dan transparan. Publik butuh kepastian, bukan sekadar janji,” jelasnya.

Tiba di ujung penutup, kisah kehadiran artis ternama di tengah korban bencana sejatinya menggambarkan dua wajah realitas: kepedulian sosial yang tulus sekaligus tantangan besar pemerintah dalam proses pemulihan yang masih berjalan. Ketika empati menjadi sorotan, ada harapan kuat bahwa cerita-cerita kemanusiaan seperti ini menjadi momentum bagi semua pihak pemerintah, komunitas, tokoh publik, dan masyarakat untuk bersama-sama mendorong proses pemulihan yang lebih cepat, adil, dan berkelanjutan.

Di balik sahur bersama, sapaan hangat artis, atau senyum anak-anak di pengungsian, tersimpan pesan universal: ketika bencana melanda, kerja nyata dan komunikasi yang jelas adalah bagian tak terpisahkan dari harapan sebuah bangsa untuk bangkit. [red]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI