Rabu, 05 Agustus 2026
Beranda / Politik dan Hukum / Jelang Musda Demokrat Aceh, Nurdiansyah Alasta Ingatkan Kader Jaga Persatuan

Jelang Musda Demokrat Aceh, Nurdiansyah Alasta Ingatkan Kader Jaga Persatuan

Selasa, 04 Agustus 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sekaligus kader Partai Demokrat, Nurdiansyah Alasta. Foto: ist


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Partai Demokrat Aceh dijadwalkan menggelar Musyawarah Daerah (Musda) pada 19 Agustus 2026. Menjelang forum tertinggi pengambilan keputusan di tingkat daerah tersebut, seluruh kader diminta menjaga persatuan, memperkuat kekompakan, serta menghormati mekanisme organisasi yang telah ditetapkan partai.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sekaligus kader Partai Demokrat, Nurdiansyah Alasta, mengatakan Musda bukan sekadar agenda untuk menentukan kepemimpinan baru, tetapi juga menjadi ujian terhadap kedewasaan politik dan soliditas seluruh kader.

Menurutnya, perbedaan pandangan maupun pilihan dalam proses Musda merupakan bagian yang wajar dalam demokrasi internal. Namun, dinamika tersebut tidak boleh berkembang menjadi konflik yang merusak hubungan antarkader maupun mengganggu konsolidasi organisasi.

“Musda merupakan forum demokrasi internal yang harus dijalankan dengan semangat kekeluargaan, saling menghormati, dan penuh kedewasaan politik. Perbedaan pilihan merupakan hal yang biasa, tetapi persatuan partai harus tetap menjadi kepentingan utama,” kata Nurdiansyah, Senin, 3 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, Partai Demokrat telah memiliki aturan dan mekanisme yang jelas dalam pelaksanaan Musda. Setiap tahapan, mulai dari penjaringan, penyampaian aspirasi hingga penetapan kepemimpinan, telah diatur melalui ketentuan organisasi yang wajib dihormati oleh seluruh kader.

Karena itu, ia meminta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu proses demokrasi internal partai.

“Partai Demokrat memiliki aturan main Musda yang jelas, terbuka, dan demokratis. Seluruh kader mempunyai kewajiban moral dan organisatoris untuk menghormati proses yang sedang berjalan,” ujarnya.

Nurdiansyah juga menyatakan keyakinannya bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY akan mengambil keputusan terbaik bagi masa depan Partai Demokrat Aceh. Keputusan tersebut, menurutnya, tentu didasarkan pada aturan organisasi, rekam jejak kader, kebutuhan konsolidasi, serta kepentingan partai dalam menghadapi agenda politik ke depan.

“Saya meyakini Ketua Umum AHY akan mengambil keputusan terbaik demi masa depan Partai Demokrat Aceh. Sebagai kader, tugas kita adalah menjaga persatuan, menghormati mekanisme organisasi, serta menerima setiap keputusan partai dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Ia mengingatkan agar momentum menjelang Musda tidak diwarnai dengan penyebaran fitnah, pembentukan opini menyesatkan, maupun klaim sepihak yang mengatasnamakan Ketua Umum atau jajaran Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat.

Menurut Nurdiansyah, tindakan membawa-bawa nama pimpinan pusat untuk memengaruhi pilihan kader tidak hanya bertentangan dengan etika politik, tetapi juga dapat merusak kepercayaan di antara sesama kader.

“Marilah kita menjaga etika politik. Jangan menyebarkan fitnah, jangan memecah belah sesama kader, dan jangan ada pihak yang mengatasnamakan atau menjual nama Ketua Umum untuk kepentingan tertentu. Apabila ada keputusan resmi, tentu akan disampaikan melalui mekanisme organisasi yang sah,” tegasnya.

Ia menilai seluruh energi kader seharusnya diarahkan pada penguatan struktur organisasi, konsolidasi hingga tingkat akar rumput, serta penyusunan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Aceh.

Musda, kata dia, semestinya melahirkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen partai, memperluas basis dukungan, memperkuat kaderisasi, dan menghadirkan politik yang berpihak pada kepentingan publik.

“Musda hanya berlangsung beberapa saat, tetapi perjuangan membesarkan Partai Demokrat merupakan tugas jangka panjang. Siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin, seluruh kader harus kembali bersatu dan menjalankan roda organisasi secara bersama-sama,” tuturnya.

Nurdiansyah menambahkan, keberhasilan Musda tidak semata-mata diukur dari terpilihnya seorang ketua, tetapi juga dari kemampuan partai mengelola perbedaan secara sehat dan mencegah lahirnya perpecahan setelah proses pemilihan berakhir.

Kepemimpinan yang terpilih nantinya, lanjut dia, harus mampu membangun komunikasi yang inklusif, mengakomodasi potensi kader, serta memperkuat hubungan antara struktur partai dan masyarakat.

“Kekuatan Partai Demokrat tidak ditentukan oleh siapa yang menang dalam Musda, tetapi oleh kemampuan seluruh kader untuk tetap bersatu, disiplin, dan bekerja bersama. Kepemimpinan yang kuat lahir dari organisasi yang solid, bukan dari kelompok yang saling menjatuhkan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan politik ke depan semakin kompleks. Partai politik dituntut tidak hanya aktif ketika menghadapi pemilu, tetapi juga hadir secara konsisten dalam mengawal persoalan ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, pelayanan publik, dan pembangunan daerah.

Karena itu, menurutnya, Musda Demokrat Aceh harus menghasilkan arah kebijakan organisasi yang lebih terukur, adaptif, dan responsif terhadap harapan masyarakat.

“Jangan habiskan energi untuk saling menyerang. Gunakan energi kita untuk membangun partai, memenangkan hati rakyat, serta memperkuat kepercayaan masyarakat kepada Partai Demokrat Aceh,” ucapnya.

Nurdiansyah optimistis, apabila seluruh kader mampu menjaga kekompakan dan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok, Partai Demokrat Aceh akan semakin kuat dalam menghadapi berbagai agenda politik mendatang.

“Kader yang kompak, disiplin, dan bekerja bersama akan menjadi modal besar bagi Partai Demokrat Aceh untuk meraih kemenangan yang lebih baik pada agenda-agenda politik ke depan,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Nurdiansyah mengajak seluruh kader menjadikan Musda sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat konsolidasi, dan memperkokoh komitmen pengabdian kepada masyarakat.

“Persaingan boleh berakhir dalam Musda, tetapi persaudaraan sebagai kader Partai Demokrat harus tetap terjaga. Mari kita sukseskan Musda secara bermartabat, menghormati setiap keputusan organisasi, kemudian bergandengan tangan membawa Partai Demokrat Aceh semakin maju, semakin dipercaya rakyat, dan meraih kemenangan bersama,” pungkasnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI