DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam peringatan Hari Damai Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8/2026), yang berujung bentrokan antara masyarakat dan aparat TNI-Polri, mendapat sorotan dari Wakil Ketua Umum DPP KNPI Saiful Chaniago.
Saiful menilai pengibaran bendera GAM dalam momentum peringatan Hari Damai Aceh ke-21 tersebut telah mencederai semangat persatuan, terlebih kegiatan berlangsung di tengah rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak sepatutnya terjadi karena Aceh merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Saiful yang juga menjabat Ketua Umum Pasukan Prabowo Subianto (Pasprobo) mendesak TNI-Polri untuk mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengibaran bendera GAM tersebut.
Ia menilai tindakan pengibaran simbol GAM dapat dipandang sebagai bentuk yang berpotensi merendahkan kewibawaan dan mengganggu kedaulatan NKRI.
"Setiap warga negara Indonesia memiliki hak berpendapat dan menyampaikan aspirasi, tentunya sebagai wujud hak konstitusional dalam kepentingan berdemokrasi di Indonesia. Akan tetapi, setiap warga negara Indonesia tidak boleh mengabaikan kewajiban konstitusional guna menjaga dan memelihara nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelas Saiful.
Ia menegaskan, kebebasan menyampaikan pendapat harus tetap dijalankan dengan menghormati ketentuan hukum serta menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Menurut Saiful, seluruh masyarakat, termasuk masyarakat Aceh, memiliki kewajiban untuk menghormati momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia juga mengajak seluruh rakyat Indonesia menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk kembali mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
"Momentum kemerdekaan ini harus kita isi dengan menjaga persatuan, menghormati perjuangan para pahlawan dan memperkuat komitmen terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.
Saiful berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang berpotensi memicu konflik, khususnya di Aceh yang telah memiliki sejarah panjang dalam perjalanan perdamaian.
