DIALEKSIS.COM | Aceh - Perjalanan dakwah seorang santri muda asal Aceh, Tgk Habibi An Nawawi, dai muda yang lahir dari tradisi dayah di Aceh, berhasil menorehkan prestasi membanggakan setelah meraih juara pertama dalam ajang Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026 yang disiarkan oleh Indosiar.
Kemenangan tersebut diraih pada malam Grand Final yang digelar Kamis (19/3/2026), setelah melalui persaingan ketat dengan finalis lain dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada babak puncak, tiga peserta terbaik tampil menyampaikan ceramah di panggung utama, yakni Habibi dari Aceh, Kamal dari Yogyakarta, dan Isninda dari Boyolali.
Melalui penyampaian dakwah yang santun, argumentasi yang kuat, serta pesan moral yang menyentuh, Habibi akhirnya berhasil memikat dewan juri dan pemirsa. Ia unggul tipis dari dua pesaingnya berdasarkan kombinasi penilaian juri dan dukungan voting pemirsa.
Namun, keberhasilan tersebut bukanlah perjalanan singkat. Di balik panggung televisi nasional itu, terdapat kisah panjang tentang perjuangan seorang santri Aceh menjemput ilmu dari berbagai penjuru.
Tgk Habibi An Nawawi lahir di Labuhan Haji pada 13 September 1999, dari pasangan Abon Sabirin Nawi dan Salfina Ali. Ia tumbuh dalam lingkungan religius yang kental dengan tradisi pesantren, khususnya di kawasan Mugo Rayeuk, Panton Reu, Aceh Barat.
Sejak kecil, Habibi telah ditempa dalam pendidikan keagamaan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Aceh Barat, ia mulai merantau menuntut ilmu dari satu dayah ke dayah lain.
Perjalanan pendidikannya membawanya ke berbagai daerah di Aceh, mulai dari Lhokseumawe hingga Aceh Utara. Tidak berhenti di sana, semangatnya menuntut ilmu membawanya keluar pulau menuju Pasuruan, Jawa Timur, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi ke Timur Tengah, tepatnya di Yaman.
Bagi Habibi, perjalanan tersebut bukan sekadar daftar riwayat pendidikan, tetapi merupakan proses panjang pembentukan karakter seorang santri.
Dalam hal ini, tradisi dayah di Aceh memiliki kekuatan besar dalam melahirkan ulama yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki akhlak dan kearifan dalam menyampaikan dakwah.
Ikhtiar panjang itu akhirnya membawanya ke panggung nasional melalui program Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026. Dalam kompetisi dakwah yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, Habibi berhasil melewati berbagai tahapan seleksi.
Ia sempat menembus tahap 21 besar sebelum akhirnya melaju hingga babak final dan keluar sebagai juara pertama.
Pada malam Grand Final, Habibi menyampaikan ceramah bertema Green Jihad, yakni ajakan menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan seorang muslim.
Dalam ceramahnya, ia menyoroti berbagai kerusakan alam yang terjadi akibat ulah manusia, mulai dari penebangan hutan secara sembarangan hingga pencemaran lingkungan.
“Hewan-hewan dimatikan, tumbuhan ditumbangkan, hingga akhirnya manusia ikut menjadi korban. Lalu ketika musibah datang, kita dengan mudah mengatakan bahwa itu ujian. Padahal sering kali itu adalah akibat dari tangan-tangan manusia sendiri,” ujar Habibi dalam ceramahnya.
Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar isu sosial, tetapi juga memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa segala bentuk bahaya harus dihilangkan, termasuk kerusakan yang merugikan kehidupan manusia dan alam.
Habibi juga mengutip fatwa dari Majelis Ulama Indonesia Nomor 86 Tahun 2023 yang menegaskan bahwa menjaga keseimbangan iklim merupakan kewajiban agama, sementara merusaknya termasuk tindakan yang merusak kehidupan.
Selain itu, ia mengajak umat Islam melihat upaya menjaga lingkungan sebagai bentuk sedekah jariah yang pahalanya terus mengalir.
“Setiap benih yang kita tanam, setiap pohon yang kita rawat, lalu buahnya dimakan oleh manusia atau burung, atau teduhnya melindungi makhluk lain, maka itu akan menjadi pahala yang terus mengalir,” katanya.
Habibi juga menyinggung penjelasan ulama besar Ibn Hajar al-Asqalani yang menafsirkan hadis tersebut sebagai dorongan untuk memakmurkan bumi.
“Hadis ini mengandung perintah agar manusia memakmurkan bumi. Ketika kita menanam pohon, itu adalah bukti bahwa kita telah menjaga amanah sebelum kembali kepada Allah,” ujar Habibi. [nh]