Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Sosok Kita / Muhammad Nasir: Ketika Jabatan Tak Membuat Jarak

Muhammad Nasir: Ketika Jabatan Tak Membuat Jarak

Senin, 20 April 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia
Muhammad Nasir Syamaun, Sekda Aceh. [Foto: dok. Humas Aceh]

DIALEKSIS.COM | Soki - Di ruang-ruang birokrasi yang kerap terasa kaku dan berjarak, ada satu kebiasaan yang jarang dimiliki banyak pejabat apa itu? membuka pintu tanpa sekat. Bagi Muhammad Nasir, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, pintu itu bukan sekadar simbol, ia benar-benar dijaga tetap terbuka.

Di sebuah pagi yang sibuk di Banda Aceh, orang datang silih berganti. Ada mahasiswa, ada aktivis, ada tokoh masyarakat, bahkan warga biasa yang hanya ingin menyampaikan persoalan kecil yang bagi mereka terasa besar. Di antara tumpukan agenda pemerintahan, Nasir tetap meluangkan waktu. Tidak semua percakapan berakhir dengan keputusan, tapi hampir semuanya berakhir dengan rasa didengar.

Dan itu, bagi banyak orang, sudah cukup berarti.

Bagi sebagian publik, Nasir mungkin hanya dikenal sebagai pejabat tinggi orang nomor satu di birokrasi Aceh. Namun bagi mereka yang pernah duduk langsung di hadapannya, ada kesan yang sulit dilupakan selama berinteraksi “tidak ada jarak” itulah yang dirasakan dan dikenang.

Ia tidak membangun aura formal yang kaku. Tidak pula menyandarkan wibawa pada protokoler berlapis. Sebaliknya, ia justru menghadirkan suasana yang cair. Percakapan terasa seperti silaturahmi, bukan audiensi yang menegangkan.

Kebiasaan ini bukan muncul tiba-tiba. Jejaknya bisa ditarik jauh ke belakang sejak ia berada di lingkungan Wali Nanggroe, kemudian saat dipercaya memimpin Dinas Pemuda dan Olahraga, menjadi Asisten, hingga kini menjabat Sekda Aceh. Dalam setiap fase itu, satu hal tetap sama yaitu akses yang terbuka.

Namun keterbukaan saja tidak cukup. Banyak pemimpin mau menerima, tapi tidak semua mau mendengar.

Di titik ini, Nasir menunjukkan karakter yang berbeda. Ia bukan hanya menerima tamu ia menyimak.

Beberapa kolega menyebut, kekuatan Nasir justru terletak pada kemampuannya menjadi pendengar yang sabar. Ia tidak tergesa memberi respons, tidak memotong pembicaraan, dan tidak langsung menghakimi sebuah persoalan. Ia membiarkan ide, keluhan, bahkan kritik mengalir.

Baru setelah itu, ia merumuskan jalan keluar.

Dalam banyak situasi, pendekatan seperti ini membuat forum-forum yang dipimpinnya tidak berhenti sebagai formalitas. Diskusi berubah menjadi ruang solusi. Aspirasi tidak berhenti di meja, tetapi dicoba untuk diterjemahkan ke dalam langkah nyata.

Di balik gaya komunikasinya yang tenang, ada komitmen personal yang cukup kuat.

Nasir dikenal tidak membatasi dirinya hanya pada urusan administratif. Dalam berbagai momentum sosial kemasyarakatan, ia kerap hadir bukan sekadar mewakili jabatan, tetapi sebagai pribadi yang ingin berkontribusi.

Ia terlibat dalam kegiatan sosial, memberi dukungan pada masyarakat yang membutuhkan, hingga ikut memastikan bahwa bantuan atau program benar-benar sampai ke tujuan. Hal-hal seperti ini sering terjadi tanpa sorotan.

Dan mungkin di situlah letak keunikannya.

Di saat banyak pejabat berlomba menampilkan kebaikan, Nasir justru cenderung menghindari sorotan. Ia tidak terlalu nyaman dengan pujian. Bahkan, beberapa kontribusi yang ia lakukan lebih sering diketahui dari cerita orang lain, bukan dari dirinya sendiri.

Peran-peran yang ia emban di luar birokrasi juga memperlihatkan pola yang sama.

Sebagai Ketua KAGAMA Aceh, ia mendorong organisasi alumni bukan sekadar menjadi ruang nostalgia, tetapi wadah kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia berbicara tentang penguatan sumber daya manusia, ekonomi kerakyatan, hingga keberpihakan pada kelompok rentan. 

Terbukti dalam kondisi pasca bencana hidrometeorogi (banjir dan longsor) bersama Kagama Aceh banyak membangun rumah huntara di Aceh Tamiang dan beberapa titik lainnya. Bahkan bantuan beasiswa kepada mahasiswa di UGM dilakukan bersama anggota lainnya.

Di dunia olahraga, melalui keterlibatannya di KONI Aceh, Nasir tidak sekadar hadir sebagai pengurus. Ia tumbuh dari proses panjang membangun, mengorganisir, hingga ikut mendorong prestasi. Dunia olahraga, dengan segala dinamika dan kompetisinya, membentuk cara pandangnya nyata kerja keras, konsistensi, dan hasil nyata.

Menariknya, dalam banyak kesempatan, Nasir lebih memilih berbicara tentang program daripada dirinya sendiri.

Ia tidak terlalu tertarik membangun citra personal. Fokusnya lebih pada bagaimana sebuah kebijakan berjalan, bagaimana persoalan masyarakat bisa diselesaikan, dan bagaimana pemerintah bisa bekerja lebih cepat.

Pendekatan ini membuatnya sering terlihat “biasa saja”. Tidak banyak gestur besar, tidak banyak pernyataan bombastis. Namun di balik itu, ada kerja yang terus berjalan.

Bagi tim redaksi Dialeksis yang mengikuti perjalanan Nasir sejak masa di Wali Nanggroe, Kadispora, Asisten, hingga kini menjadi Sekda Aceh, ada satu benang merah yang sulit dipungkiri dan diakui banyak orang yakni konsistensi karakter.

Ia tidak berubah oleh jabatan.

Jika dulu ia mudah ditemui, kini pun tetap demikian. Jika dulu ia terbiasa mendengar, kini pun tetap sama. Jika dulu ia bekerja tanpa banyak bicara, kini pun tidak jauh berbeda.

Di tengah dinamika birokrasi yang sering kali berubah seiring posisi, hal seperti ini bukan sesuatu yang umum.

Barangkali, di situlah sisi lain Muhammad Nasir yang jarang diketahui publik luas.

Ia tidak sedang berusaha menjadi berbeda. Ia hanya menjaga cara yang menurutnya benar: membuka ruang, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan bekerja tanpa perlu banyak ditampilkan.

Dalam dunia yang sering kali menilai dari apa yang terlihat, Nasir memilih jalan yang lebih sunyi. Dan justru dari situ, ia menjadi terasa dekat. [ra]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI