Rabu, 01 Juli 2026
Beranda / Berita / Dunia / Serangan Siber Iran ke Israel Naik Tiga Kali Lipat, Infrastruktur Vital Jadi Target

Serangan Siber Iran ke Israel Naik Tiga Kali Lipat, Infrastruktur Vital Jadi Target

Selasa, 30 Juni 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ilustrasi Perang Iran dan Amerika-Israel. Foto: UX Gun/Unsplash 


DIALEKSIS.COM | Internasional - Ketegangan antara Iran dan Israel kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah ke dunia maya. Pemerintah Israel mengklaim serangan siber yang diduga berasal dari Iran meningkat drastis sepanjang tahun ini.

Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel, Yossi Karadi, mengungkapkan bahwa jumlah serangan siber yang menyasar berbagai sektor di Israel melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dalam wawancaranya dengan harian Jerman Die Welt, Karadi menyebutkan bahwa pada Juni 2025, saat berlangsung operasi militer Israel terhadap Iran, pihaknya mencatat sekitar 1.600 insiden siber bermusuhan. Namun, pada Juni 2026 angka tersebut meningkat tajam menjadi sekitar 4.800 insiden.

"Beberapa kelompok sangat terampil. Kami mampu mengatasinya, tetapi kami harus menganggap ancaman ini dengan sangat serius. Berbeda dengan perang konvensional, tidak ada gencatan senjata di dunia maya," ujar Karadi, seperti dikutip The New Arab, Selasa (30/6/2026).

Menurut Karadi, serangan siber tersebut menyasar berbagai sektor strategis, mulai dari infrastruktur vital, lembaga pemerintah, organisasi penting, hingga perusahaan kecil dan menengah serta masyarakat umum.

Ia menyebut kantor hukum dan firma akuntansi sebagai contoh perusahaan yang turut menjadi sasaran serangan. Meski demikian, Karadi mengklaim hingga kini sistem infrastruktur kritis Israel masih mampu bertahan dari upaya peretasan tersebut.

"Sejauh ini—dan kami berharap tetap demikian—kami berhasil menggagalkan seluruh serangan terhadap infrastruktur penting," katanya.

Namun, perusahaan yang memiliki sistem keamanan digital lebih lemah disebut mengalami kerusakan cukup serius. Dalam sejumlah kasus, data pada sistem komputer mereka dilaporkan dihapus oleh pelaku serangan, meski Karadi tidak mengungkap identitas perusahaan yang menjadi korban.

Di sisi lain, Iran selama ini secara konsisten membantah terlibat dalam kampanye peretasan terhadap negara lain. Sebaliknya, Teheran kerap mengklaim menjadi korban serangan siber yang dituduhkan dilakukan Israel.

Salah satu insiden yang disorot adalah gangguan terhadap layanan perbankan utama Iran pada 23 Juni lalu. Pemerintah Iran menuding serangan tersebut dilakukan oleh Israel. Selain itu, Iran juga pernah mengalami serangan siber besar terhadap jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada 2021 dan 2023 yang juga dikaitkan dengan Israel.

Meningkatnya intensitas serangan siber ini menunjukkan bahwa persaingan Iran-Israel tidak lagi terbatas pada operasi militer dan diplomasi, tetapi juga berkembang menjadi perang digital yang menargetkan sistem teknologi dan infrastruktur strategis kedua negara. Para pengamat menilai, ruang siber kini menjadi salah satu medan konflik paling aktif dalam rivalitas kedua negara, dengan potensi dampak yang luas terhadap keamanan nasional, layanan publik, hingga aktivitas ekonomi.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
dishes