DIALEKSIS.COM | Moskow - Utusan khusus Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina. Pertemuan ini berlangsung di tengah penegasan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahwa setiap kesepakatan mengenai masa depan negaranya harus melibatkan Kyiv.
Dalam pertemuan bersama para pemimpin Finlandia dan Norwegia di Oslo, Selasa (20/10/2026) malam, Zelenskyy mengatakan komunikasi dengan pejabat AS berlangsung konstruktif. Washington juga disebut kembali menegaskan komitmennya untuk memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina.
Namun, Zelenskyy menegaskan bahwa kesepakatan damai tidak dapat dibuat tanpa keterlibatan langsung Ukraina dalam proses perundingan.
“Tidak ada keputusan mengenai Ukraina tanpa melibatkan Ukraina,” tegas Zelenskyy. Ia mengungkapkan telah membahas usulan pertemuan trilateral antara AS, Tiongkok, dan Rusia untuk merundingkan penyelesaian konflik yang telah berlangsung hampir lima tahun tersebut.
Pembicaraan di Oslo juga mencakup kemungkinan penerapan Pasal 5 NATO, yang mengatur bahwa serangan terhadap satu anggota aliansi dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Selain itu, dibahas pula sejumlah opsi jaminan keamanan lain bagi Ukraina.
Menurut Zelenskyy, Witkoff akan menyampaikan berbagai usulan tersebut kepada pihak Rusia. Kyiv berharap dapat menerima tanggapan Moskow dalam waktu satu hari setelah pembicaraan berlangsung.
Perundingan ini terjadi ketika hubungan Washington dan Kyiv mengalami ketegangan. Presiden AS Donald Trump menuduh Zelenskyy tidak menginginkan perdamaian. Sebaliknya, pemimpin Ukraina itu memperingatkan bahwa pelonggaran sanksi AS terhadap Rusia, termasuk terkait pasokan bahan bakar diesel, berpotensi memperpanjang perang.
Di sisi lain, Rusia kembali melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi dan sasaran sipil di berbagai wilayah Ukraina. Laporan media setempat menyebutkan serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang.
Serangan itu terjadi setelah Trump pada 11 Oktober mengklaim telah memediasi “gencatan senjata energi” antara kedua negara. Kesepakatan tersebut bertujuan menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi di tengah tingginya harga bahan bakar diesel.
Ukraina sempat menghentikan serangan serupa selama tiga hari, tetapi kembali melanjutkannya dengan alasan Rusia masih melakukan serangan. Zelenskyy juga mengonfirmasi bahwa intelijen AS kembali memberikan peringatan dini mengenai potensi serangan Rusia, sementara pembahasan terkait layanan Starlink dan sistem pertahanan udara Patriot masih berlanjut. [ae-cnbc]