Minggu, 31 Mei 2026
Beranda / Feature / Menjemput Berkah di Kaki Burni Telong

Menjemput Berkah di Kaki Burni Telong

Sabtu, 30 Mei 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Sabiruddin ditemani istri dan anak-anaknya, sedang mempersiapkan lahan untuk menanam kentang di kaki Gunung Burni Telong, Bener Meriah. Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Redelong - ​Kabut tipis masih memeluk erat pinggang Gunung Burni Telong, Bener Meriah. Udara sedingin es khas dataran tinggi Gayo menusuk hingga ke tulang, namun kehangatan justru terpancar jelas dari sebuah ladang di kaki gunung berapi tersebut.

​Hari masih pagi, Sabtu, 30 Mei 2026. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 07.00 WIB, tetapi aktivitas di hamparan tanah subur itu sudah berdenyut kencang.

​Di sana, Sabiruddin (48), ditemani istri dan anak-anaknya, tampak asyik mencangkul tanah. Peluh yang menetes di dahi berganti menjadi senyum lebar setiap kali mata cangkulnya membalikkan tanah hitam vulkanis yang gembur. Hari itu, mereka sedang mempersiapkan lahan untuk menanam kentang.

​"Dulu, tanah hamparan ini adalah sawah basah. Kami menanam padi hanya untuk makan sehari-hari, nyaris tak ada sisa untuk ditabung," kenang Sabiruddin, sembari menyeka keringatnya.

​Melihat tantangan ekonomi yang kian menjepit, Sabiruddin bersama petani lainnya di kaki Burni Telong mengambil langkah berani beberapa tahun lalu. Mereka merombak total pola bertani. Sawah-sawah dialihfungsikan menjadi kebun kopi Arabika Gayo yang mendunia dan tanaman palawija, khususnya kentang. Sebuah perjudian nasib yang kini berbuah manis.

​Perjuangan bertahun-tahun merawat tanah vulkanis itu kini terbayar lunas. Tahun 2026 menjadi tahun keemasan bagi para petani di Bener Meriah. Harga komoditas pertanian melonjak tajam, membawa angin segar kesejahteraan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

​Saat ini, harga kentang di tingkat petani meroket hingga berkisar Rp35.000 per kilogram. Angka yang luar biasa bagi para petani lokal.

"Dengan harga Rp35 ribu per kilo, hasil panen kentang kali ini bisa menyekolahkan anak sampai kuliah, bahkan memperbaiki rumah," ujar Zakiyah, istri Sabiruddin.

​Tidak hanya kentang, tanaman kopi yang tumbuh subur di sela-sela lereng gunung juga sedang berada di puncak kejayaannya. Kopi Arabika Gayo dari kaki Burni Telong memiliki cita rasa unik--sedikit beraroma buah (fruity) dengan tingkat keasaman yang pas--membuatnya diburu oleh eksportir mancanegara.

​Kombinasi panen kopi yang melimpah dan harga kentang yang melambung tinggi sukses mengubah wajah kemiskinan di desa mereka. Rumah-rumah kayu berdinding lapuk kini mulai berganti menjadi bangunan permanen yang kokoh. Di halaman rumah warga, sepeda motor baru dan mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil panen bukan lagi pemandangan yang langka.

​Menjaga Harmoni dengan Sang Gunung

​Bagi Sabiruddin dan masyarakat kaki Burni Telong, gunung berapi yang berdiri megah di latar belakang ladang mereka bukanlah ancaman, melainkan sumber kehidupan. Gunung itulah yang memuntahkan unsur hara, menyuburkan tanah, dan memberi mereka berkah yang melimpah.

​Matahari mulai meninggi di ufuk timur, mengusir perlahan kabut Bener Meriah. Sabiruddin kembali mengayunkan cangkulnya dengan penuh semangat. Di bawah bayangan Burni Telong, pria ramah ini adalah bukti nyata bahwa kerja keras, keberanian mengubah haluan, dan restu alam mampu mengubah cucuran keringat menjadi pundi-pundi kesejahteraan. (*)

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI