DIALEKSIS.COM | Feature - Tidak semua hubungan antara seorang pengacara dan atlet lahir dari perkara hukum. Ada yang tumbuh karena rasa hormat, kepedulian, dan kesamaan nilai kemanusiaan. Itulah kisah yang dialami Advokat senior Aceh, Nourman Hidayat SH, pendiri Kantor Hukum Nourman & Rekan, dengan petarung Mixed Martial Arts (MMA) asal Papua, Ikhsan Lani.
Kisah mereka dimulai bukan di ruang sidang atau arena pertandingan, melainkan dari sebuah wawancara yang membekas di hati Nourman.
Beberapa tahun lalu, Ikhsan baru saja memenangkan salah satu pertarungannya. Seperti lazimnya seorang juara, ia diminta memberikan komentar usai pertandingan. Namun jawaban yang keluar justru jauh dari urusan teknik bertarung.
Ia berbicara tentang Palestina.
Bahkan, ketika ditanya mengenai penderitaan anak-anak Palestina, petarung asal Papua itu tak kuasa menahan air mata.
Momen itulah yang membuat Nourman terdiam.
"Banyak petarung menang karena ingin dikenal. Tapi Ikhsan justru menggunakan kemenangan itu untuk menyuarakan kemanusiaan," kenang Nourman.
Sejak saat itu, ia merasa mengenal pribadi Ikhsan, meski keduanya dipisahkan ribuan kilometer.
Tanpa berpikir panjang, Nourman kemudian menghubungi Ikhsan.
Ia menyampaikan satu kalimat yang hingga kini masih diingat sang petarung.
"Selama Ikhsan bertarung untuk kehormatan, saya adalah pengacara gratis untuk Ikhsan."
Ucapan itu disambut penuh rasa syukur.
Bagi Ikhsan, dukungan tersebut bukan sekadar tawaran bantuan hukum. Lebih dari itu, ia merasa menemukan seorang kakak yang percaya pada perjuangannya.
Saat itu Ikhsan masih menetap di Batam untuk menjalani latihan.
Dalam salah satu percakapan, Nourman bercerita bahwa dirinya memiliki keponakan di kota tersebut.
Tak disangka, respons Ikhsan begitu hangat.
"Di mana alamatnya, Pak? Biar Ikhsan jumpai," katanya antusias.
Bagi Nourman, sikap sederhana itu menunjukkan bahwa nama besar belum mengubah karakter Ikhsan.
Hubungan mereka kemudian semakin erat.
Suatu hari, Nourman kembali menghubungi Ikhsan dengan kabar yang membuat semangatnya membuncah.
Ia memberi tahu bahwa legenda UFC asal Dagestan, Khabib Nurmagomedov, direncanakan melakukan kunjungan ke Jakarta.
Nourman bertanya singkat.
"Ikhsan mau satu panggung dengan Khabib?"
Jawaban Ikhsan spontan.
"Mau, Pak! Apa yang harus Ikhsan lakukan?"
Percakapan itu berkembang menjadi sebuah wawancara mengenai mimpi besar Ikhsan.
Ia bercerita tentang keinginannya berlatih di Dagestan, tanah kelahiran Khabib yang dikenal melahirkan banyak petarung kelas dunia. Ia juga mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai putra Papua yang berjuang menembus kerasnya dunia MMA.
Nourman kemudian meminta Ikhsan membuat video terbaik yang memperkenalkan dirinya.
Video itu dipublikasikan melalui Instagram sebagai bagian dari upaya memperkenalkan sosok Ikhsan kepada publik yang lebih luas.
Tak lama kemudian, kabar menggembirakan datang.
"Alhamdulillah, Pak. Akhirnya One Pride bersedia menampilkan Ikhsan satu panggung dengan Khabib," ujar Ikhsan penuh semangat.
Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama.
Rencana kunjungan Khabib ke Indonesia akhirnya batal karena alasan tertentu.
Meski demikian, Nourman mengatakan mimpi itu tidak pernah benar-benar padam.
Ia bahkan sempat berpesan kepada Ikhsan mengenai apa yang harus disampaikan jika benar-benar bertemu sang legenda.
"Sampaikan apresiasi kepada Khabib. Katakan bahwa kamu mengagumi pertarungannya melawan McGregor. Lalu sampaikan keinginanmu berlatih bersama The Eagle di Dagestan."
Pesan sederhana itu menunjukkan bahwa di balik seorang advokat, Nourman juga berperan sebagai penyemangat yang terus menjaga mimpi seorang atlet.
Yang membuat Nourman semakin menghormati Ikhsan bukan semata prestasinya di arena.
Baginya, karakter Ikhsan justru terlihat ketika berada jauh dari sorotan kamera.
Saat banjir besar melanda Aceh pada awal tahun, Ikhsan memilih tetap berada di tengah masyarakat.
Ia berpuasa Ramadhan bersama para penyintas banjir di Aceh Tamiang.
Ia tinggal bersama mereka dalam waktu yang cukup lama.
Jika harus meninggalkan Aceh, itu hanya untuk bertanding.
Begitu pertandingan usai dan berhasil meraih kemenangan, ia kembali lagi.
Bukan untuk menikmati popularitas.
Melainkan membantu membersihkan lumpur yang menimbun rumah-rumah warga.
"Ikhsan tetap petarung yang sederhana. Padahal namanya sudah besar," ujar Nourman.
Di mata Nourman, perjalanan Ikhsan mengingatkannya pada kisah para petinju legendaris yang dahulu dibina promotor dunia Don King.
Nama-nama seperti Muhammad Ali, Mike Tyson, hingga Evander Holyfield pernah berada di bawah naungan sang promotor legendaris.
Nourman memang bukan promotor olahraga.
Ia juga bukan manajer petarung profesional.
Namun ia percaya, setiap atlet hebat membutuhkan orang-orang yang bersedia membuka jalan, memberi dukungan, dan menjaga semangatnya.
Karena itu, ia menyimpan satu harapan sederhana.
Suatu hari nanti, katanya, mungkin dialah yang akan kembali menghadirkan Ikhsan Lani ke Aceh.
Bukan sekadar sebagai petarung.
Melainkan sebagai inspirasi bahwa persaudaraan tidak mengenal batas profesi, suku, maupun daerah asal.
"Dari Papua hingga Aceh, yang menyatukan kami bukan olahraga. Melainkan nilai kemanusiaan," tutur Nourman.
Dan di penghujung kisahnya, ia hanya menuliskan dua kata sederhana yang sarat makna.
"Terima kasih, Ikhsan."
