Selasa, 13 Oktober 2026
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Jeungki, Alat Penumbuk Padi Warisan Leluhur Aceh, Begini Bentuk dan Cara Kerjanya

Jeungki, Alat Penumbuk Padi Warisan Leluhur Aceh, Begini Bentuk dan Cara Kerjanya

Senin, 12 Oktober 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Jeungki. [Foto: dok. Museum Aceh]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Jauh sebelum mesin penggiling padi digunakan secara luas, masyarakat Aceh telah mengenal jeungki, alat tradisional berbahan kayu yang dimanfaatkan untuk mengolah hasil pertanian menjadi bahan pangan.

Jeungki merupakan salah satu warisan teknologi tradisional masyarakat Aceh yang mengandalkan tenaga manusia untuk menumbuk berbagai bahan, mulai dari gabah, beras, jagung, hingga kopi.

Meski bentuknya sederhana, alat ini memiliki mekanisme kerja yang memanfaatkan prinsip tuas atau pengungkit. Dengan memanfaatkan titik tumpu dan gerakan naik-turun, tenaga kaki dapat menghasilkan tumbukan untuk memproses bahan yang diletakkan di dalam lesung kayu.

Dalam pengolahan padi, jeungki digunakan untuk melepaskan sekam atau kulit luar yang masih menyelimuti butiran gabah. Proses tersebut dilakukan secara bertahap hingga gabah berubah menjadi beras yang siap dibersihkan sebelum digunakan sebagai bahan pangan.

Cara Kerja Jeungki untuk Menumbuk Padi

Proses penggunaan jeungki dimulai dengan memasukkan gabah ke dalam lubang atau lesung kayu yang berada di bawah bagian penumbuk.

Pengguna kemudian menginjak salah satu ujung kayu utama untuk mengangkat alu, yakni batang kayu yang berfungsi sebagai penumbuk. Ketika pijakan kaki dilepaskan, alu bergerak turun dan menghantam gabah di dalam lesung.

Gerakan tersebut dilakukan berulang kali sampai sekam terlepas dari butiran padi. Pengguna perlu mengatur ritme injakan agar proses penumbukan berlangsung secara efektif.

Cara kerja ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Aceh memanfaatkan tenaga kaki untuk menghasilkan gerakan mekanis tanpa menggunakan mesin maupun sumber energi listrik.

Setelah proses penumbukan selesai, hasilnya berupa campuran beras dan sekam. Campuran tersebut belum sepenuhnya bersih sehingga perlu melalui tahapan pemisahan.

Beras dan Sekam Dipisahkan Menggunakan Tampi

Tahap berikutnya adalah menampi hasil tumbukan menggunakan tampi atau nyiru, yaitu alat berbentuk pipih yang digunakan untuk membersihkan hasil pertanian.

Campuran beras dan sekam diletakkan di atas tampi. Pengguna kemudian mengangkat serta menggerakkan tampi dengan gerakan tertentu agar sekam yang lebih ringan terpisah dari butiran beras.

Dengan bantuan hembusan angin, sekam dapat terbawa menjauh, sedangkan butiran beras yang lebih berat cenderung tetap berada di atas tampi.

Proses tersebut dilakukan berulang kali hingga sebagian besar sekam dan kotoran terpisah dari beras. Dengan demikian, hasil penumbukan menjadi lebih bersih dan siap untuk tahapan pengolahan selanjutnya.

Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa pengolahan padi secara tradisional tidak hanya mengandalkan satu alat. Jeungki digunakan untuk menumbuk gabah, sedangkan tampi membantu memisahkan beras dari sekam.

Bentuk Jeungki dan Bagian-Bagiannya

Secara bentuk, jeungki menyerupai tuas kayu panjang yang bertumpu pada sebuah penyangga. Kayu utama dipasang mendatar dan dapat bergerak naik-turun ketika salah satu ujungnya diinjak.

Pada salah satu ujung terdapat alu yang berfungsi sebagai penumbuk. Sementara itu, di bawah bagian alu terdapat lesung atau lubang kayu sebagai tempat meletakkan bahan yang akan diproses.

Ujung lainnya berfungsi sebagai pijakan kaki. Ketika bagian tersebut diinjak, ujung yang membawa alu akan terangkat. Sebaliknya, ketika tekanan dilepaskan, alu bergerak turun dan menumbuk bahan di dalam lesung.

Susunan ini memungkinkan tenaga kaki diteruskan melalui kayu pengungkit menjadi gerakan penumbukan. Prinsip kerjanya sederhana, tetapi membantu pengguna melakukan pekerjaan secara berulang tanpa harus mengangkat dan menjatuhkan alu menggunakan tangan secara langsung.

Bentuk dan ukuran jeungki dapat berbeda sesuai dengan bahan, kebutuhan, serta kebiasaan masyarakat yang menggunakannya.

Jeungki, Warisan Teknologi Tradisional Aceh

Keberadaan jeungki memperlihatkan cara masyarakat Aceh memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kayu menjadi bahan utama pembuatan alat tersebut, sedangkan tenaga manusia digunakan sebagai penggerak. Melalui perpaduan sederhana itu, masyarakat dapat mengolah hasil panen tanpa bergantung pada mesin modern.

Jeungki juga mencerminkan pengetahuan praktis yang berkembang dari pengalaman masyarakat dalam mengolah bahan pangan. Prinsip tuas yang diterapkan pada alat ini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat lahir dari kebutuhan sehari-hari, bahkan dengan konstruksi yang relatif sederhana.

Seiring berkembangnya teknologi pertanian dan semakin luasnya penggunaan mesin penggiling, cara pengolahan tradisional seperti penggunaan jeungki dapat tergantikan di sejumlah tempat. Namun, alat ini tetap memiliki nilai sebagai bagian dari pengetahuan lokal dan sejarah kehidupan masyarakat Aceh.

Mengenal jeungki bukan hanya mempelajari cara menumbuk gabah pada masa lalu, melainkan juga memahami kreativitas masyarakat dalam menciptakan alat yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan mereka.

Warisan seperti jeungki penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda agar pengetahuan mengenai teknologi tradisional dan kehidupan masyarakat Aceh tidak hilang seiring perubahan zaman. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI