Minggu, 24 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Partai Kecoak di India Viral, Berawal dari Sindiran untuk Anak Muda Pengangguran

Partai Kecoak di India Viral, Berawal dari Sindiran untuk Anak Muda Pengangguran

Sabtu, 23 Mei 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Partai Kecoa Janta India. Foto: Instagram/@cockroachjantaparty


DIALEKSIS.COM | New Delhi - Sebuah lelucon di media sosial berubah menjadi gerakan politik satire yang menyita perhatian publik India. Gerakan itu bernama Cockroach Janta Party atau CJP, yang berarti Partai Rakyat Kecoak.

Tokoh di balik gerakan tersebut adalah Abhijeet Dipke, pria berusia 30 tahun lulusan Universitas Boston, Amerika Serikat, di bidang hubungan masyarakat. Dalam tiga hari terakhir, Abhijeet mengaku hampir tidak tidur setelah unggahan santainya di media sosial berkembang menjadi gelombang dukungan luas dari kalangan anak muda.

Dikutip dari Al Jazeera, CJP bermula dari pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dalam sebuah sidang terbuka pada Jumat (15/5). Saat itu, Kant menyebut anak muda pengangguran sebagai “kecoak”.

“Ada anak-anak muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi ini. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, lalu mulai menyerang semua orang,” kata Kant.

Pernyataan itu kemudian menuai kemarahan, terutama dari generasi muda India. Meski Kant belakangan memberikan klarifikasi, pernyataan tersebut telanjur memantik reaksi keras di ruang digital.

Di tengah gelombang kemarahan itu, Abhijeet menulis unggahan di platform X pada Sabtu. “Bagaimana jika semua kecoak bersatu?” tulisnya.

Unggahan tersebut kemudian berkembang. Abhijeet membuat situs web dan akun media sosial untuk Cockroach Janta Party. Nama CJP sekaligus menjadi sindiran terhadap Bharatiya Janata Party (BJP), partai berkuasa yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.

“Mereka yang berkuasa mengira warga negara adalah kecoak dan parasit,” kata Abhijeet kepada Al Jazeera dari Chicago, Amerika Serikat.

Menurutnya, sebutan “kecoak” justru berbalik menjadi simbol kritik terhadap kondisi sosial dan politik India.

“Mereka seharusnya tahu bahwa kecoak berkembang biak di tempat-tempat yang busuk. Itulah yang terjadi di India saat ini,” ujarnya.

Dalam waktu singkat, akun Instagram CJP disebut telah memiliki 11,1 juta pengikut hanya dalam tiga hari. Lebih dari 350.000 orang juga diklaim telah mendaftar sebagai anggota partai melalui formulir Google.

Angka itu bahkan disebut melampaui jumlah pengikut Instagram BJP yang memiliki sekitar 8,8 juta pengikut. BJP selama ini dikenal sebagai salah satu partai politik terbesar di dunia.

Gelombang dukungan terhadap CJP tidak hanya datang dari warganet biasa. Sejumlah tokoh politik juga disebut ikut mendaftar, termasuk Mahua Moitra, anggota parlemen oposisi dari Bengal Barat, serta Kirti Azad, mantan anggota parlemen dari Bihar.

Salah satu pendaftar awal CJP adalah Ashish Joshi, mantan birokrat yang pensiun dari layanan federal India awal tahun ini. Ia mengetahui gerakan tersebut dari media sosial dan langsung tertarik bergabung.

“Dalam satu dekade terakhir, ada banyak ketakutan di negara ini. Orang-orang takut untuk berbicara,” kata Joshi kepada Al Jazeera.

Menurutnya, kehadiran CJP memberi warna baru dalam situasi politik India yang dinilai semakin tegang.

“India telah menjadi sangat penuh kebencian, sehingga Partai Kecoak Janta seperti menghirup udara segar,” ujarnya.

Joshi menilai, penyebutan anak muda sebagai kecoak justru dapat dimaknai dari sisi berbeda. Baginya, kecoak adalah simbol ketangguhan dan daya hidup.

“Kecoa adalah serangga yang tangguh. Mereka bertahan hidup. Tampaknya mereka bisa membentuk sebuah partai dan merangkak di atas sistem Anda,” kata pria berusia 60 tahun itu.

Sebagai partai satire, CJP memiliki empat kriteria keanggotaan yang sengaja dibuat jenaka, yakni pengangguran, malas, terlalu sering online, dan mampu mengoceh secara profesional.

Di platform X, CJP mengusung moto: “Sebuah front politik pemuda, oleh pemuda, untuk pemuda. Sekuler, Sosialis, Demokratis, Malas.”

Sementara di Instagram, CJP memperkenalkan diri sebagai “serikat kecoak yang malas dan menganggur”. Mereka secara terbuka mengajak generasi Z untuk bergabung.

Meski dibangun dengan pendekatan humor, manifesto CJP memuat kritik tajam terhadap sejumlah isu serius di India. Mulai dari dugaan manipulasi pemilih, pemerintahan Modi, media korporat yang dinilai terlalu lentur kepada kekuasaan, hingga penunjukan hakim ke posisi pemerintahan setelah pensiun.

Abhijeet mengaku membangun CJP secara daring dalam waktu 24 jam setelah unggahan pertamanya viral. Ia juga memanfaatkan alat kecerdasan buatan seperti Claude dan ChatGPT untuk merancang tampilan serta manifesto partai tersebut.

Gerakan CJP kini menjadi contoh bagaimana satire, humor, dan absurditas dapat berubah menjadi medium kritik politik. Di tengah ruang publik yang penuh tekanan, Partai Kecoak tampil sebagai simbol perlawanan generasi muda terhadap elite politik dan sistem yang mereka anggap tidak lagi mewakili keresahan rakyat.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI