Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Aceh Punya Potensi Besar Jadi Sentra Budidaya Tiram di Sepanjang Pesisir

Aceh Punya Potensi Besar Jadi Sentra Budidaya Tiram di Sepanjang Pesisir

Sabtu, 07 Februari 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Syardani M. Syarif, yang lebih dikenal sebagai Teungku Jamaica, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sedang meninjau lokasi budidaya tiram miliknya di kawasan Alue Naga dan Ulee Lheue, Banda Aceh. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah keluhan minimnya lapangan kerja di Aceh, Syardani M. Syarif, yang lebih dikenal sebagai Teungku Jamaica, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kini menekuni budidaya tiram di kawasan Alue Naga dan Ulee Lheue, Banda Aceh. Baginya, laut Aceh bukan hanya hamparan air asin, tetapi ladang ekonomi yang belum digarap serius.

“Di Aceh hana alasan nganggur dan gasiën, kecuali beu-ò seu-iët (di Aceh tidak ada alasan untuk menganggur dan miskin kecuali malas sedikit),” ujarnya tegas saat ditemui di lokasi budidayanya oleh media dialeksis.com, Sabtu (7/2/2026).

Menurutnya, potensi tiram tersebar luas di 18 kabupaten/kota di sepanjang pesisir Utara-Timur hingga Barat“Selatan Aceh. Perairan yang relatif bersih, pasang surut yang stabil, serta tradisi masyarakat pesisir yang akrab dengan laut menjadi modal alami yang sangat kuat.

Di perairan dangkal Ulee Lheue dan Alue Naga, ratusan induk tiram berukuran besar dibudidayakan menggunakan oyster mesh bag atau keranjang pembesaran tiram yang digantung di laut.

“Sebenarnya ini tiram genus Ostrea, spesies O. edulis. Saya sebut tiram super jumbo supaya mudah membedakan dengan tiram kecil yang juga saya jual,” jelasnya.

Metode budidaya ini memungkinkan tiram tumbuh lebih cepat, terlindungi dari predator, dan mudah dipanen. Dalam satu siklus, petani bisa memanen tiram dengan ukuran konsumsi yang bernilai jual tinggi di pasar restoran dan hotel.

Teungku Jamaica menilai, selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada perikanan tangkap, sementara budidaya laut (marikultur) seperti tiram masih dianggap usaha kecil-kecilan.

Padahal, menurutnya, jika dikelola secara profesional dengan dukungan pelatihan, bibit unggul, dan akses pasar, tiram bisa menjadi sumber ekonomi besar bagi masyarakat pesisir.

“Banyak orang belum sadar. Padahal, laut kita ini bisa jadi kebun yang menghasilkan uang tiap bulan,” katanya.

Ia mencontohkan, satu keranjang tiram bisa berisi puluhan ekor. Jika dikembangkan dalam skala ratusan hingga ribuan keranjang oleh kelompok nelayan, hasilnya dapat menyamai bahkan melampaui pendapatan melaut tradisional yang bergantung musim.

Budidaya tiram juga dinilai ramah bagi pemula. Modal awal relatif terjangkau dibanding usaha tambak udang atau keramba ikan laut. Selain itu, pekerjaannya tidak selalu menuntut melaut jauh.

Mulai dari pembibitan, perawatan, pembersihan cangkang, panen, hingga pemasaran, seluruh rantai usaha ini membuka peluang kerja baru bagi warga pesisir termasuk pemuda yang selama ini kesulitan mencari pekerjaan.

“Kalau serius, ini bisa jadi gerakan ekonomi baru di kampung-kampung pesisir Aceh,” ujar Teungku Jamaica.

Selain nilai ekonominya, tiram juga dikenal luas sebagai bahan pangan laut bergizi. Tiram mengandung protein, mineral, serta zinc (seng) dalam kadar tinggi yang penting bagi berbagai fungsi tubuh.

Kandungan ini kerap dikaitkan dengan dukungan terhadap metabolisme, daya tahan tubuh, dan kesehatan reproduksi pria, meski konsumsi tetap perlu seimbang dan tidak menggantikan saran medis profesional.

Menurut Teungku Jamaica, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan laut sehat ikut mendorong permintaan tiram, terutama dari pasar kuliner.

Meski optimistis, ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, terutama dalam bentuk pendampingan teknis, bantuan sarana budidaya, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas.

Baginya, budidaya tiram bukan sekadar usaha pribadi, tetapi bisa menjadi model kemandirian ekonomi pascakonflik dan solusi pengangguran di wilayah pesisir Aceh.

"Restoran dan hotel mulai cari tiram segar lokal. Ini peluang besar kalau petani bisa jaga kualitas,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI