Minggu, 28 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Belajar Otodidak dari YouTube, Pemuda Aceh Bangun Usaha Pembibitan Buah Unggulan

Belajar Otodidak dari YouTube, Pemuda Aceh Bangun Usaha Pembibitan Buah Unggulan

Sabtu, 27 Juni 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pembudidaya mengecek bibit mangga varietas Fortune di Kebun Berkah Bibit, Aceh Besar, Sabtu (27/6/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Jantho -  Siapa sangka, seorang lulusan SMK Teknik Kimia Industri (SMTI) kini menjadi salah satu pembudidaya bibit buah unggulan terbesar di Aceh. 

Berbekal rasa ingin tahu, ketekunan, dan kemauan belajar secara mandiri melalui YouTube, Fikar Masyar Putra berhasil membangun Berkah Bibit, kebun pembibitan di Desa Cot Geudreut, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, yang kini memiliki lebih dari 10 ribu bibit tanaman buah dari puluhan varietas unggulan.

Di bawah terik matahari, Sabtu (27/6/2026), Fikar tampak sibuk memeriksa satu per satu bibit mangga yang tersusun rapi di dalam ribuan polybag. Tangan pria muda itu begitu telaten mengecek sambungan batang, membersihkan daun, hingga memastikan setiap bibit tumbuh sehat sebelum dikirim kepada pelanggan.

Kesuksesan tersebut ternyata tidak dibangun dari bangku kuliah pertanian ataupun pelatihan khusus. Semua bermula dari hobi sederhana mengoleksi tanaman buah.

"Awalnya tahun 2018 saya hanya koleksi pribadi. Waktu itu belum ada niat usaha. Lama-lama banyak orang datang melihat koleksi saya, kemudian mereka ingin membeli bibit. Dari situ akhirnya saya mulai membuka untuk umum," kata Fikar kepada media dialeksis.com. 

Meski kini dikenal sebagai pembudidaya tanaman buah, Fikar mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian. Ia justru merupakan lulusan Teknik Kimia Industri.

"Saya bukan orang pertanian. Semua saya belajar sendiri. Banyak belajar dari internet, terutama YouTube. Dari situ saya belajar teknik sambung pucuk, okulasi, cara memperbanyak tanaman sampai menghasilkan bibit yang berkualitas," ujarnya.

Baginya, internet menjadi ruang belajar yang sangat membantu. Berbagai teknik yang sebelumnya terasa sulit perlahan dapat ia kuasai melalui latihan yang dilakukan berulang kali.

"Semuanya otodidak. Yang penting mau mencoba terus. Kalau gagal ya dicoba lagi sampai berhasil," katanya.

Namun perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bibit yang dikembangkannya.

Menurut Fikar, pada awal membuka usaha, pohon induk yang dimilikinya belum menghasilkan buah sehingga banyak calon pembeli meragukan keaslian varietas tanaman yang dijual.

"Waktu itu orang masih ragu. Mereka belum percaya karena pohon induknya belum berbuah. Jadi kami harus membuktikan sendiri. Setelah pohonnya mulai berbuah, baru masyarakat yakin kalau varietasnya benar. Sekarang justru banyak yang indent," ujarnya.

Salah satu varietas yang kini paling diburu adalah Mangga Fortune, varietas premium asal Taiwan yang dikenal memiliki ukuran buah besar dan cita rasa manis.

"Hari ini Fortune paling banyak dicari. Bahkan sudah lebih dari 50 orang yang inden karena stok bibit habis. Yang tersedia sekarang masih dalam proses penyambungan," jelasnya.

Selain Fortune, Berkah Bibit juga membudidayakan sekitar 75 varietas mangga dari berbagai negara. Beberapa di antaranya yakni Lhok Mai, Yuwen, Coconut Pakistan, Black Stone, Red Emperor, hingga Ginseng.

"Semua tidak langsung kami produksi. Kami menyesuaikan dengan permintaan. Kalau ada yang mencari jenis tertentu, baru kami perbanyak," katanya.

Fikar menjelaskan sebagian besar varietas mangga premium berasal dari Taiwan, Thailand, India hingga Pakistan. Masing-masing memiliki karakter buah yang berbeda, mulai dari ukuran, warna, aroma hingga rasa.

Tak hanya mangga, Berkah Bibit juga menyediakan berbagai tanaman buah unggulan lainnya seperti alpukat premium, jambu, longkong asal Thailand, dukong tanpa biji dari Malaysia, hingga mamey putih yang mampu menghasilkan buah berbobot mencapai lima kilogram.

Kini, kawasan pembibitan yang awalnya hanya berada di halaman depan rumah telah berkembang menjadi kebun dengan lebih dari 10 ribu bibit yang siap dipasarkan.

Harga bibit pun bervariasi, mulai dari Rp20 ribu untuk bibit kecil hingga Rp1 juta per batang untuk tanaman berukuran besar dan varietas langka.

"Harga tergantung ukuran dan jenisnya. Ada orang yang ingin cepat panen, jadi mereka memilih pohon yang sudah besar walaupun harganya lebih mahal," ujarnya.

Di balik perkembangan usahanya, Fikar mengaku seluruh proses dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. "Semua kami bangun sendiri dari awal. Belum pernah ada bantuan ataupun pendampingan," katanya.

Meski demikian, ia tetap berkomitmen berbagi ilmu kepada generasi muda. Kebun Berkah Bibit kini sering menjadi tempat praktik mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh.

"Mahasiswa dari USK, Unaya dan kampus lainnya sering praktik di sini. Kami ajarkan cara membuat pupuk organik cair, teknik sambung pucuk sampai perbanyakan tanaman. Harapan saya semakin banyak anak muda yang tertarik ke dunia pertanian," katanya.

Bagi Fikar, menjual bibit bukan hanya soal transaksi. Ia ingin memastikan setiap pohon yang dibeli benar-benar tumbuh dan menghasilkan buah.

Karena itu, setiap pembeli akan mendapatkan pendampingan mulai dari memilih bibit, membuat lubang tanam, menyusun media tanam, pemupukan hingga perawatan setelah tanaman ditanam.

"Kami tidak ingin pelanggan beli bibit lalu tanamannya mati karena tidak tahu cara merawat. Jadi kami ajarkan semuanya sampai mereka paham," ujarnya.

Menurutnya, kepuasan pelanggan menjadi modal terbesar untuk mengembangkan usaha. "Kalau pelanggan berhasil, mereka akan cerita ke orang lain. Akhirnya pelanggan baru datang dari rekomendasi mulut ke mulut. Itu promosi yang paling baik," katanya.

Fikar berharap semakin banyak generasi muda yang berani belajar secara mandiri dan terjun ke sektor pertanian. Baginya, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh latar belakang pendidikan, tetapi oleh kemauan untuk terus belajar dan mencoba.

"Saya membuktikan bahwa belajar bisa dari mana saja. Saya belajar dari YouTube, terus mencoba, dan akhirnya bisa sampai seperti sekarang. Semoga semakin banyak anak muda yang mau melihat pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes